Rabu, 27 Desember 2017

mas tam

BUDAYA ORGANISASI

Budaya Organisasi Dalam Meningkatkan Mutu Hafalan di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Tahfidz Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Menawan Kudus Jawa Tengah)

Noor Indah Kusumawardani
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

budaya organisasi


Kata Kunci: Budaya Organisasi, Mutu Hafalan, Pondok Pesantren
Abstrak
Budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai perangkat sistem nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, asumsi-asumsi, atau norma-norma yang telah lama berlaku, disepakati, dan diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan pemecahan masalah-masalah organisasinya. Budaya organisasi adalah salah satu aspek yang menentukan keberhasilan suatu organisasi. Budaya membedakan masyarakat satu dengan yang lain dalam cara berinteraksi dan bertindak menyelesaikan suatu pekerjaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis : Nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan dalam meningkatkan mutu hafalan, Norma/ aturan yang diterapkan dalam meningkatkan mutu hafalan, Kondisi Mutu Hafalan dan Implikasi Budaya Organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus Jawa Tengah.
Penelitian ini menggunakan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan kualitatif interaktif yang berupa studi kasus (study case), Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah itu data yang telah terkumpul dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan yang terakhir adalah verifikasi atau menarik kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) ada beberapa nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, antara lain: a) Budaya Berbahasa, b) Budaya Disiplin, c) Budaya Memotivasi dan Memberikan Dorongan, d) Budaya Membaca al-Qur’an dan e) Budaya Ta’dzim/ Patuh. (2) ada beberapa norma/ aturan yang diterapkan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus dalam meningkatkan hafalan, antara lain: a) Santri dilarang Membawa HP dan Alat elektronik sejenisnya, b) Santri dilarang keluar dari Lingkungan/ Komplek Pondok Pesantren, c) Semua Guru Tahfidz Diwajibkan Untuk menginap di Pondok Pesantren, dan d) Semua Santri Wajib melalui Beberapa Titik/ Level yaitu titik toleransi, titik target, titik haflah, titik tabarrukan, dan titik qiro’ah sab’ah. (3) ada beberapa implikasi budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, antara lain: a) kinerja guru, Mulai tumbuh disiplin kerja, tumbuh rasa tanggung jawab, tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati, b) mutu hafalan dan prestasi siswa, Mutu hafalan siswa semakin baik, tumbuh prestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik, dan c) minat masyarakat, Minat dan kepercayaan masyarakat semakin tinggi untuk menyekolahkan anaknya di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus.

PENDAHULUAN
Budaya dalam suatu organisasi, baik organisasi pemerintahan maupun swasta mencerminkan penampilan organisasi, bagaimana organisasi dilihat oleh orang yang berada di luarnya. Organisasi yang mempunyai budaya positif akan menunjukkan citra positif pula, demikian pula sebaliknya apabila  budaya organisasi tidak berjalan baik akan memberikan citra negatif bagi suatu organisasi. (Wibowo: 2010)  Budaya organisasi dapat didefinisikan sebagai perangkat sistem nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, asumsi-asumsi, atau norma-norma yang telah lama berlaku, disepakati, dan diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan pemecahan masalah-masalah organisasinya. Suatu budaya yang kuat ditandai oleh nilai-nilai organisasi yang dipegang kukuh dan disepakati secara luas. Semakin banyak anggota organisasi yang menerima nilai-nilai inti dan semakin besar komitmen mereka terhadap nilai-nilai tersebut, semakin kuat suatu budaya. Sejalan dengan definisi ini, suatu budaya yang kuat, jelas sekali akan memiliki pengaruh yang besar dalam sikap anggota organisasi dibandingkan dengan budaya yang lemah. (Robbins: 2002)
Budaya organisasi sekolah yang positif dapat juga mempengaruhi terselenggaranya pendidikan yang bermutu tinggi serta pembentukan sikap dan moral yang positif bagi segenap personil yang ada dalam lembaga pendidikan. Kondisi yang demikian ini sangat mendukung pencapaian prestasi belajar yang tinggi. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab utama dalam rangka penataan budaya organisasi sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah memegang peranan yang sangat menentukan dalam menciptakan keberhasilan di sekolah.
Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan menarik untuk diteliti dan sarat nilai pendidikan dan pengajarannya karena mampu menciptakan khoirul ummah. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang unik. (Dhofier: 1994) Tidak hanya keberadaannya yang sudah sangat lama, tetapi juga karena metode, budaya, manajemen, dan sistem yang diterapkan oleh lembaga pendidikan tersebut. Salah satu komunitas yang mampu membentuk budaya yang khas adalah pesantren karena pesantren mampu menciptakan kreasi yang berulang yang kemudian menjelma menjadi sebuah kesepakatan kolektif maka pada saat itu pula sebuah kreasi menjelma menjadi sebuah budaya. (Zuhry: 2011)
Banyak penelitian tentang budaya organisasi, tetapi penelitian lebih ditekankan pada kinerja karyawan di suatu perusahaan. Penelitian tentang budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan di suatu pondok pesantren tahfidzul qur’an belum tersentuh dan kelihatan, tentunya penelitian budaya organisasi di suatu perusahaan dan budaya organisasi disuatu pesantren, hasilnya akan berbeda.

METODE PENELITIAN                                                                                                       
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan kualitatif interaktif yang berupa studi kasus (study case), Pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah itu data yang telah terkumpul dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan yang terakhir adalah verifikasi atau menarik kesimpulan. Dalam penelitian ini, metode deskriptif kualitatif dipilih karena dianggap paling efektif dan effisien mendapatkan data yang tepat tentang informasi budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus Jawa Tengah
Informan
Dalam memperoleh data tentang budaya organisasi yang berkembang di pondok pesantren, peneliti menggunakan teori budaya organisasi sebagai acuan. Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara secara mendalam dengan pihak-pihak penyelenggara pendidikan pondok pesantren mengenai nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan pada lembaga organisasi atau lembaga pendidikan yang dikelolanya.
Tabel 1. Daftar Informan

No
Instrumen
Konteks Penelitian
1
Pimpinan Pondok dan Kepala Sekolah
Penelitian berfokus pada nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan, aturan yang diterapkan, dan kondisi mutu hafalan serta implikasi budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan siswa
2
Guru-Guru (tahfidz & non tahfidz)
Penelitian berfokus pada nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan, aturan yang diterapkan, dan kondisi mutu hafalan siswa
3
Siswa-Siswa, Para Santri dan Allumi
Penelitian berfokus pada nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan, aturan yang diterapkan, dan kondisi mutu hafalan siswa

Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang valid dan relevan, penelitian ini menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data. Hal ini dimaksudkan agar metode yang satu dengan yang lainnya dapat saling melengkapi. Adapun metode-metode tersebut adalah: observasi, wawancara, dan dokumentasi. (1) observasi: Adapun teknik ini utamanya digunakan pada studi pendahuluan, seperti mengobservasi suasana sekolah serta dilanjutkan pada proses penelitian yang mengacu pada penggalian informasi terkait. (2) wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur artinya wawancara dengan perencanaan, di mana peneliti menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Wawancara terstruktur ini digunakan untuk mewawancarai narasumber seperti pengasuh atau pimpinan pondok (Dr. H. Ahmad Faiz, Lc, M.A), kepala madrasah (Drs. H. Manshur, M. Si) dan para ustadz (Ustadz Ali Musthofa, Ustadz Muhtadi, Ustadz Ulin Nuha, Ustadz Hasan Asy’ari, dan lain-lain), para siswa, para santri, dan beberapa allumni. (3) dokumentasi: Adapun dokumentasi yang dimaksud adalah profil sejarah berdirinya dan perkembangan MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, buku yang berkaitan dengan langkah-langkah kepengurusan, profil pondok pesantren, dan buku manajemen pondok pesantren, dan dokumentasi tata usaha meliputi keadaan siswa, daftar guru (termasuk jumlah dan latar belakang pendidikan guru), visi, misi, dan tujuan madrasah, sarana dan prasarana, prestasi siswa dan sebagainya yang mendukung penelitian ini.
Analisa Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif deskriptif, yaitu analisa data yang berpedoman pada metode berpikir induksi dan deduksi. Analisis data ini untuk menjawab pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian, yaitu mengapa dan bagaimana. Data dikumpulkan dengan berbagai teknik pengumpulan data (triangulasi), yaitu merupakan penggabungan dari berbagai macam teknik pengumpulan data baik wawancara, observasi, maupun dengan menggunakan angket. Semakin banyak data terkumpul, maka hasil penelitian yang didapat semakin bagus. (Patilima: 2004) Data yang sudah terkumpul kemudian data dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema serta polanya. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencari data berikutnya jika diperlukan. Data-data yang tidak terpakai dibuang, sehingga peneliti lebih fokus pada data yang telah tereduksi. (Patilima: 2004) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Display data berupa tabel. Display data dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan flowchart. Penyajian data dengan menggunakan teks yang bersifat naratif. (Patilima: 2004) Langkah berikutnya dalam analisis data adalah verifikasi yaitu memverifikasi data dan menarik kesimpulan. Kesimpulan yang diambil harus didukung oleh data-data yang valid dan konsisten. Sehingga kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan yang diperoleh merupakan jawaban dari fokus penelitian.

HASIL PENELITIAN
Berdasarkan data yang peneliti peroleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi terkait dengan judul penelitian yang peneliti angkat yaitu “Budaya Organisasi dalam Meningkatkan Mutu Hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus (Studi Kasus di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus)” terdapat beberapa temuan penelitian sebagai berikut:
Nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus dalam meningkatkan mutu hafalan, meliputi: 1) budaya berbahasa; 2) budaya disiplin; 3) budaya memotivasi dan memberikan dorongan; 4) budaya membaca al-Qur’an; dan 5) budaya ta’dzim/ patuh.
Sedangkan norma/ aturan yang diterapkan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an dalam meningkatkan mutu hafalan meliputi: 1) santri dilarang membawa Hp dan alat elektronik sejenisnya; 2) santri dilarang keluar dari lingkungan/ komplek Pondok Pesantren; 3) semua Guru Tahfidz Diwajibkan Untuk menginap di Pondok Pesantren; dan 4) semua santri wajib melalui beberapa titik/ level yaitu titik toleransi, titik target, titik haflah, titik tabarrukan, dan titik qiro’ah sab’ah.
Sedangkan kondisi mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus bisa dikatakan sudah cukup baik. Standar Penilaian Mutu Hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus dapat dikatakan baik, apabila memenuhi beberapa point di bawah ini:
a.       Santri mencapai target hafalan satu tahun 5 juz
b.      Santri dalam mengaji/ menghafal menggunakan Tajwid yang baik dan benar yang mengacu atau berpedoman pada Metode Yanbua jilid VI dan VII yang diterbitkan oleh Yayasan Arwaniyah sendiri.
c.       Santri dalam mengaji/ menghafal menggunakan Makharijul Huruf yang baik dan benar dengan kriteria A= Sangat Baik, B= Baik, dan C= Cukup.
d.      Kelancaran Hafalan dalam setiap maqra’/ halaman, maksimal dua kali salah. Jika santri lupa, tetapi bisa membenarkan sendiri, maka itu tidak dianggap salah.
e.       Santri mendapatkan nilai tahfidz di atas SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yaitu 80.
Sedangkan Implikasi budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan adalah sebagai berikut:
a.       Dilihat dari kinerja guru, Mulai tumbuh disiplin kerja, tumbuh rasa tanggung jawab, tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati
b.      Dilihat dari mutu hafalan dan prestasi siswa, Mutu hafalan siswa semakin baik, tumbuh prestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik
c.       Dilihat dari minat masyarakat, Minat dan kepercayaan masyarakat semakin tinggi untuk menyekolahkan anaknya di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus


Tabel 2 : Hasil Temuan Penelitian di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus
No
Fokus Penelitian
MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus
1
Nilai-Nilai Budaya Organisasi yang dikembangkan dalam meningkatkan mutu hafalan
a.       Budaya Berbahasa
b.      Budaya Disiplin
c.       Budaya Memotivasi dan Memberikan Dorongan
d.      Budaya Membaca al-Qur’an
e.       Budaya Ta’dzim/ Patuh
2
Norma/ Aturan yang diterapkan dalam meningkatkan mutu hafalan
a.       Santri dilarang Membawa HP dan Alat elektronik sejenisnya
b.      Santri dilarang keluar dari Lingkungan/ Komplek Pondok Pesantren
c.       Semua Guru Tahfidz Diwajibkan Untuk menginap di Pondok Pesantren
d.      Semua Santri Wajib melalui Beberapa Titik/ Level yaitu titik toleransi, titik target, titik haflah, titik tabarrukan, dan titik qiro’ah sab’ah.
3
Kondisi Mutu Hafalan dan Implikasi Budaya Organisasi dalam meningkatkan Mutu Hafalan
Kondisi mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus bisa dikatakan sudah cukup baik. Standar Penilaian Mutu Hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus dapat dikatakan baik, apabila memenuhi beberapa point di bawah ini:
a.       Santri mencapai target hafalan satu tahun 5 juz
b.      Santri dalam mengaji/ menghafal menggunakan Tajwid yang baik dan benar yang mengacu atau berpedoman pada Metode Yanbua jilid VI dan VII yang diterbitkan oleh Yayasan Arwaniyah sendiri.
c.       Santri dalam mengaji/ menghafal menggunakan Makharijul Huruf yang baik dan benar dengan kriteria A= Sangat Baik, B= Baik, dan C= Cukup.
d.      Kelancaran Hafalan dalam setiap maqra’/ halaman, maksimal dua kali salah. Jika santri lupa, tetapi bisa membenarkan sendiri, maka itu tidak dianggap salah.
e.       Santri mendapatkan nilai tahfidz di atas SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yaitu 80.
sedangkan Implikasi budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan adalah sebagai berikut:
a.       Dilihat dari kinerja guru, Mulai tumbuh disiplin kerja, tumbuh rasa tanggung jawab, tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati
b.      Dilihat dari mutu hafalan dan prestasi siswa, Mutu hafalan siswa semakin baik, tumbuh prestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik
c.       Dilihat dari minat masyarakat, Minat dan kepercayaan masyarakat semakin tinggi untuk menyekolahkan anaknya di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus.


PEMBAHASAN
Senada dengan apa yang dikatakan oleh Sule dan Saefullah bahwasannya budaya organisasi merupakan nilai-nilai dan norma yang dianut serta dijalankan oleh sebuah organisasi terkait dengan lingkungan di mana organisasi tersebut menjalankan kegiatannya. (Sule & Saefullah: 2004) Kemudian selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Denison bahwa budaya organisasi merupakan nilai-nilai, keyakinan, dan prinsip-prinsip dasar yang merupakan landasan bagi sistem dan praktik-praktik  manajemen serta perilaku yang meningkatkan dan menguatkan prinsip-prinsip tersebut.
Salah satu karakteristik penting budaya organisasi yang diungkapkan oleh Luthans adalah nilai-nilai dominan (dominant values) yaitu adanya nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh seluruh anggota organisasi (Luthans: 2006)  Nilai-nilai organisasi biasanya tergambar di dalam visi dan misi organisasi. Menurut Robbins, nilai cenderung relatif stabil dan berlangsung lama. Kemudian menurut Edgar Schein nilai sulit diamati secara langsung sehingga untuk menyimpulkannya seringkali diperlukan wawancara dengan anggota organisasi yang mempunyai posisi kunci atau dengan menganalisis kandungan artefak seperti dokumen.
MC. Donald dalam Oemar Hamalik mengatakan bahwa, “motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions”. Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik: 1992)
Terdapat tujuh variabel yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu organisasi yaitu 1) strategi, dan 2) struktur yang merupakan hardware of organization, 3) gaya, 4) sistem, 5) pegawai, 6) kemampuan dan 7) budaya organisasi (shared values) yang merupakan software of orgaization (Moeljono: 2003). Jadi budaya organisasi adalah salah satu variabel yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu organisasi.

PENUTUP
Simpulan
Setelah melakukan penelitian dan analisis data hasil penelitian, maka ada tiga simpulan yang sesuai dengan fokus penelitian yang dapat diambil dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:
Nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus yakni budaya berbahasa, budaya disiplin, budaya memotivasi dan memberikan dorongan, budaya membaca al-Qur’an dan budaya ta’dzim atau patuh.
Norma atau aturan yang dibuat dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus yakni santri dilarang embawa Hp dan alat elektronik sejenisnya, santri dilarang keluar dari lingkungan/ komplek Pondok Pesantren, semua guru tahfidz diwajibkan untuk menginap di Pondok Pesantren, dan semua santri wajib melalui beberapa titik/ level yaitu titik toleransi, titik target, titik haflah, titik tabarrukan, dan titik qiro’ah sab’ah.
Kondisi mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus bisa dikatakan sudah cukup baik. Standar Penilaian Mutu Hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus dapat dikatakan baik, apabila memenuhi beberapa point berikut yaitu a) santri mencapai target hafalan satu tahun 5 juz, b) santri dalam mengaji/ menghafal menggunakan tajwid yang baik dan benar yang mengacu atau berpedoman pada Metode Yanbua jilid VI dan VII yang diterbitkan oleh Yayasan Arwaniyah sendiri, c) santri dalam mengaji/ menghafal menggunakan makharijul huruf yang baik dan benar dengan kriteria A= sangat baik, B= baik, dan C= cukup, d) kelancaran hafalan dalam setiap maqra’/ halaman, maksimal dua kali salah. Jika santri lupa, tetapi bisa membenarkan sendiri, maka itu tidak dianggap salah, serta e) santri mendapatkan nilai tahfidz di atas SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yaitu 80. Sedangkan Implikasi budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan adalah sebagai berikut: a) dilihat dari kinerja guru, mulai tumbuh disiplin kerja, tumbuh rasa tanggung jawab, tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati, b) dilihat dari mutu hafalan dan prestasi siswa, Mutu hafalan siswa semakin baik, tumbuh prestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik, c) dilihat dari minat masyarakat, Minat dan kepercayaan masyarakat semakin tinggi untuk menyekolahkan anaknya di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus.

Saran
Bagi para pengambil kebijakan, sebagai salah satu acuan dalam mengambil kebijakan tentang budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan siswa di sekolah atau mutu hafalan santri di lingkungan pondok pesantren.
Bagi pelaksana pendidikan dalam mensosialisasikan dan menanamkan nilai-nilai madrasah atau nilai-nilai pesantren yang dimiliki, sehingga menjadi landasan budaya yang kuat dan mampu meningkatkan kualitas para siswa dan santrinya serta mampu meningkatkan kinerja seluruh civitas madrasah.
Bagi MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, segala norma/ aturan yang diterapkan di madrasah supaya di tuliskan secara formal dalam sebuah buku aturan madrasah yang telah disepakati bersama.
Bagi peneliti selanjutnya, sebagai acuan untuk penelitian terutama dalam aspek budaya organisasi.

Daftar Pustaka
Carapedia.com/pengertian-definisi-dampak-info2123.html. diakses pada tanggal 13 Mei 2017 pukul 10.43 WIB

Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. 1994

Hamalik, Oemar. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru. 1992

Luthans, Fred. Perilaku Organisasi. Edisi kesepuluh. Yogyakarta: Andi Offset. 2006

Moeljono, Djoko Santoso. Budaya Korporat dan Keunggulan Koorporasi. Jakarta: Elex Media Komputindo. 2003

Patilima, Hamid. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. 2004

Robbins, Stephen P. Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga. 2002

Rokhlinasari, Sri. Budaya Organisasi Pesantren dalam Pengembangan Wirausaha Santri di Pesantren Wirausaha Lan Taburo Kota Cirebon, Jurnal Holistik Volume 15 Nomor 02 tahun 2014

Sule, Ernie Tisnawati dan Kurniawan Saefullah. Pengantar Manajemen. Edisi Pertama. Jakarta: Prenada Media. 2004

Wibowo. Budaya Organisasi Sebuah Kebutuhan Untuk Meningkatkan Kinerja Jangka Panjang. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2010


Zuhriy, M. Syaifuddin. Budaya Pesantren dan Pendidikan Karakter Pada Pondok Pesantren Salaf, Jurnal Walisongo, Volume 19, Nomor 2, November 2011

mas tam

About mas tam -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :