Budaya Organisasi
Dalam Meningkatkan Mutu Hafalan di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (Studi
Kasus di Madrasah Tsanawiyah Tahfidz Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Menawan Kudus
Jawa Tengah)
Noor Indah Kusumawardani
UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
Kata Kunci: Budaya Organisasi, Mutu Hafalan, Pondok
Pesantren
Abstrak
Budaya organisasi
dapat didefinisikan sebagai perangkat sistem nilai-nilai, keyakinan-keyakinan,
asumsi-asumsi, atau norma-norma yang telah lama berlaku, disepakati, dan
diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan
pemecahan masalah-masalah organisasinya. Budaya organisasi adalah salah satu
aspek yang menentukan keberhasilan suatu organisasi. Budaya membedakan
masyarakat satu dengan yang lain dalam cara berinteraksi dan bertindak
menyelesaikan suatu pekerjaan.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis : Nilai-nilai budaya organisasi
yang dikembangkan dalam meningkatkan mutu hafalan, Norma/ aturan yang
diterapkan dalam meningkatkan mutu hafalan, Kondisi Mutu Hafalan dan Implikasi
Budaya Organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul
Qur’an Kudus Jawa Tengah.
Penelitian
ini menggunakan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan
kualitatif interaktif yang berupa studi kasus (study case), Pengumpulan
data penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Setelah itu data yang telah terkumpul dianalisis dengan tahapan reduksi data,
penyajian data dan yang terakhir adalah verifikasi atau menarik kesimpulan.
Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa: (1) ada beberapa nilai-nilai budaya organisasi
yang dikembangkan dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul
Qur’an Kudus, antara lain: a) Budaya Berbahasa, b) Budaya Disiplin, c) Budaya
Memotivasi dan Memberikan Dorongan, d) Budaya Membaca al-Qur’an dan e) Budaya
Ta’dzim/ Patuh. (2) ada beberapa norma/ aturan yang diterapkan di MTs Tahfidz
Yanbu’ul Qur’an Kudus dalam meningkatkan hafalan, antara lain: a) Santri
dilarang Membawa HP dan Alat elektronik sejenisnya, b) Santri dilarang keluar
dari Lingkungan/ Komplek Pondok Pesantren, c) Semua Guru Tahfidz Diwajibkan
Untuk menginap di Pondok Pesantren, dan d) Semua Santri Wajib melalui Beberapa
Titik/ Level yaitu titik toleransi, titik target, titik haflah, titik
tabarrukan, dan titik qiro’ah sab’ah. (3) ada beberapa implikasi budaya
organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an
Kudus, antara lain: a) kinerja guru, Mulai tumbuh disiplin kerja, tumbuh rasa
tanggung jawab, tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati, b) mutu hafalan
dan prestasi siswa, Mutu hafalan siswa semakin baik, tumbuh prestasi baik dalam
bidang akademik maupun non akademik, dan c) minat masyarakat, Minat dan
kepercayaan masyarakat semakin tinggi untuk menyekolahkan anaknya di MTs
Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus.
PENDAHULUAN
Budaya dalam suatu organisasi,
baik organisasi pemerintahan maupun swasta mencerminkan penampilan organisasi,
bagaimana organisasi dilihat oleh orang yang berada di luarnya. Organisasi yang
mempunyai budaya positif akan menunjukkan citra positif pula, demikian pula
sebaliknya apabila budaya organisasi
tidak berjalan baik akan memberikan citra negatif bagi suatu organisasi.
(Wibowo: 2010) Budaya organisasi dapat
didefinisikan sebagai perangkat sistem nilai-nilai, keyakinan-keyakinan,
asumsi-asumsi, atau norma-norma yang telah lama berlaku, disepakati, dan
diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan
pemecahan masalah-masalah organisasinya. Suatu budaya yang kuat ditandai oleh
nilai-nilai organisasi yang dipegang kukuh dan disepakati secara luas. Semakin
banyak anggota organisasi yang menerima nilai-nilai inti dan semakin besar
komitmen mereka terhadap nilai-nilai tersebut, semakin kuat suatu budaya.
Sejalan dengan definisi ini, suatu budaya yang kuat, jelas sekali akan memiliki
pengaruh yang besar dalam sikap anggota organisasi dibandingkan dengan budaya
yang lemah. (Robbins: 2002)
Budaya organisasi sekolah yang positif dapat juga mempengaruhi
terselenggaranya pendidikan yang bermutu tinggi serta pembentukan sikap dan moral
yang positif bagi segenap personil yang ada dalam lembaga pendidikan. Kondisi
yang demikian ini sangat mendukung pencapaian prestasi belajar yang tinggi.
Kepala sekolah memiliki tanggung jawab utama dalam rangka penataan budaya
organisasi sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah memegang peranan
yang sangat menentukan dalam menciptakan keberhasilan di sekolah.
Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan menarik untuk
diteliti dan sarat nilai pendidikan dan pengajarannya karena mampu menciptakan
khoirul ummah. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang unik. (Dhofier:
1994) Tidak hanya keberadaannya yang sudah sangat lama, tetapi juga karena
metode, budaya, manajemen, dan sistem yang diterapkan oleh lembaga pendidikan
tersebut. Salah satu komunitas yang mampu membentuk budaya yang khas adalah
pesantren karena pesantren mampu menciptakan kreasi yang berulang yang kemudian
menjelma menjadi sebuah kesepakatan kolektif maka pada saat itu pula sebuah
kreasi menjelma menjadi sebuah budaya. (Zuhry: 2011)
Banyak penelitian tentang budaya organisasi, tetapi penelitian lebih
ditekankan pada kinerja karyawan di suatu perusahaan. Penelitian tentang budaya
organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan di suatu pondok pesantren tahfidzul
qur’an belum tersentuh dan kelihatan, tentunya penelitian budaya organisasi di
suatu perusahaan dan budaya organisasi disuatu pesantren, hasilnya akan
berbeda.
METODE
PENELITIAN
Desain
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan
kualitatif interaktif yang berupa studi kasus (study case), Pengumpulan
data penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Setelah itu data yang telah terkumpul dianalisis dengan tahapan reduksi data,
penyajian data dan yang terakhir adalah verifikasi atau menarik kesimpulan.
Dalam penelitian ini, metode deskriptif kualitatif dipilih karena dianggap
paling efektif dan effisien mendapatkan data yang tepat tentang informasi
budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul
Qur’an Kudus Jawa Tengah
Informan
Dalam memperoleh data tentang budaya organisasi yang berkembang di pondok
pesantren, peneliti menggunakan teori budaya organisasi sebagai acuan. Dalam
hal ini peneliti melakukan wawancara secara mendalam dengan pihak-pihak
penyelenggara pendidikan pondok pesantren mengenai nilai-nilai budaya
organisasi yang dikembangkan pada lembaga organisasi atau lembaga pendidikan
yang dikelolanya.
Tabel 1. Daftar Informan
No
|
Instrumen
|
Konteks Penelitian
|
1
|
Pimpinan
Pondok dan Kepala Sekolah
|
Penelitian berfokus pada nilai-nilai budaya
organisasi yang dikembangkan, aturan yang diterapkan, dan kondisi mutu
hafalan serta implikasi budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan
siswa
|
2
|
Guru-Guru
(tahfidz & non tahfidz)
|
Penelitian
berfokus pada nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan, aturan yang
diterapkan, dan kondisi mutu hafalan siswa
|
3
|
Siswa-Siswa,
Para Santri dan Allumi
|
Penelitian
berfokus pada nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan, aturan yang
diterapkan, dan kondisi mutu hafalan siswa
|
Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang
valid dan relevan, penelitian ini menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan
data. Hal ini dimaksudkan agar metode yang satu dengan yang lainnya dapat
saling melengkapi. Adapun metode-metode tersebut adalah: observasi, wawancara,
dan dokumentasi. (1) observasi: Adapun teknik ini utamanya digunakan pada studi
pendahuluan, seperti mengobservasi suasana sekolah serta dilanjutkan pada
proses penelitian yang mengacu pada penggalian informasi terkait. (2) wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah
wawancara terstruktur artinya wawancara dengan perencanaan, di mana peneliti
menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap
untuk pengumpulan datanya. Wawancara terstruktur ini digunakan untuk mewawancarai
narasumber seperti pengasuh atau pimpinan pondok (Dr. H. Ahmad Faiz, Lc, M.A),
kepala madrasah (Drs. H. Manshur, M. Si) dan para ustadz (Ustadz Ali Musthofa,
Ustadz Muhtadi, Ustadz Ulin Nuha, Ustadz Hasan Asy’ari, dan lain-lain), para
siswa, para santri, dan beberapa allumni. (3) dokumentasi: Adapun dokumentasi
yang dimaksud adalah profil sejarah berdirinya dan perkembangan MTs Tahfidz
Yanbu’ul Qur’an Kudus, buku yang berkaitan dengan langkah-langkah kepengurusan,
profil pondok pesantren, dan buku manajemen pondok pesantren, dan dokumentasi
tata usaha meliputi keadaan siswa, daftar guru (termasuk jumlah dan latar
belakang pendidikan guru), visi, misi, dan tujuan madrasah, sarana dan
prasarana, prestasi siswa dan sebagainya yang mendukung penelitian ini.
Analisa Data
Penelitian ini menggunakan
teknik analisis data kualitatif deskriptif, yaitu analisa data yang berpedoman
pada metode berpikir induksi dan deduksi. Analisis data ini untuk menjawab
pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian, yaitu mengapa dan bagaimana. Data dikumpulkan dengan
berbagai teknik pengumpulan data (triangulasi), yaitu merupakan penggabungan
dari berbagai macam teknik pengumpulan data baik wawancara, observasi, maupun
dengan menggunakan angket. Semakin banyak data terkumpul, maka hasil penelitian
yang didapat semakin bagus. (Patilima: 2004) Data yang sudah terkumpul kemudian
data dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang
penting dan dicari tema serta polanya. Data yang telah direduksi akan
memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan
pengumpulan data selanjutnya dan mencari data berikutnya jika diperlukan.
Data-data yang tidak terpakai dibuang, sehingga peneliti lebih fokus pada data
yang telah tereduksi. (Patilima: 2004) Setelah data direduksi, maka langkah
selanjutnya adalah mendisplaykan data. Display data berupa tabel. Display data
dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan
antar kategori dan flowchart. Penyajian data dengan menggunakan teks yang
bersifat naratif. (Patilima: 2004) Langkah berikutnya dalam analisis data
adalah verifikasi yaitu memverifikasi data dan menarik kesimpulan. Kesimpulan
yang diambil harus didukung oleh data-data yang valid dan konsisten. Sehingga
kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan yang
diperoleh merupakan jawaban dari fokus penelitian.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan data yang peneliti peroleh dari hasil observasi,
wawancara, dan dokumentasi terkait dengan judul penelitian yang peneliti angkat
yaitu “Budaya Organisasi dalam Meningkatkan Mutu Hafalan di MTs Tahfidz
Yanbu’ul Qur’an Kudus (Studi Kasus di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus)”
terdapat beberapa temuan penelitian sebagai berikut:
Nilai-nilai budaya organisasi yang dikembangkan di MTs Tahfidz
Yanbu’ul Qur’an Kudus dalam meningkatkan mutu hafalan, meliputi: 1) budaya
berbahasa; 2) budaya disiplin; 3) budaya memotivasi dan memberikan dorongan; 4)
budaya membaca al-Qur’an; dan 5) budaya ta’dzim/ patuh.
Sedangkan norma/ aturan yang diterapkan di MTs Tahfidz Yanbu’ul
Qur’an dalam meningkatkan mutu hafalan meliputi: 1) santri dilarang membawa Hp
dan alat elektronik sejenisnya; 2) santri dilarang keluar dari lingkungan/ komplek
Pondok Pesantren; 3) semua Guru Tahfidz Diwajibkan Untuk menginap di Pondok
Pesantren; dan 4) semua santri wajib melalui beberapa titik/ level yaitu titik
toleransi, titik target, titik haflah, titik tabarrukan, dan titik qiro’ah
sab’ah.
Sedangkan kondisi mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus
bisa dikatakan sudah cukup baik. Standar Penilaian Mutu Hafalan di MTs Tahfidz
Yanbu’ul Qur’an Kudus dapat dikatakan baik, apabila memenuhi beberapa point di
bawah ini:
a.
Santri
mencapai target hafalan satu tahun 5 juz
b.
Santri
dalam mengaji/ menghafal menggunakan Tajwid yang baik dan benar yang mengacu
atau berpedoman pada Metode Yanbua jilid VI dan VII yang diterbitkan oleh
Yayasan Arwaniyah sendiri.
c.
Santri
dalam mengaji/ menghafal menggunakan Makharijul Huruf yang baik dan benar
dengan kriteria A= Sangat Baik, B= Baik, dan C= Cukup.
d.
Kelancaran
Hafalan dalam setiap maqra’/ halaman, maksimal dua kali salah. Jika
santri lupa, tetapi bisa membenarkan sendiri, maka itu tidak dianggap salah.
e.
Santri
mendapatkan nilai tahfidz di atas SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yaitu 80.
Sedangkan Implikasi budaya organisasi dalam meningkatkan mutu
hafalan adalah sebagai berikut:
a.
Dilihat
dari kinerja guru, Mulai tumbuh disiplin kerja, tumbuh rasa tanggung jawab,
tumbuh rasa saling menghargai dan menghormati
b.
Dilihat
dari mutu hafalan dan prestasi siswa, Mutu hafalan siswa semakin baik, tumbuh
prestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik
c.
Dilihat
dari minat masyarakat, Minat dan kepercayaan masyarakat semakin tinggi untuk
menyekolahkan anaknya di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus
Tabel 2 : Hasil Temuan Penelitian di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an
Kudus
No
|
Fokus
Penelitian
|
MTs Tahfidz Yanbu’ul
Qur’an Kudus
|
1
|
Nilai-Nilai Budaya Organisasi yang dikembangkan dalam
meningkatkan mutu hafalan
|
a.
Budaya
Berbahasa
b.
Budaya
Disiplin
c.
Budaya
Memotivasi dan Memberikan Dorongan
d.
Budaya
Membaca al-Qur’an
e.
Budaya
Ta’dzim/ Patuh
|
2
|
Norma/ Aturan yang diterapkan dalam meningkatkan mutu hafalan
|
a.
Santri
dilarang Membawa HP dan Alat elektronik sejenisnya
b.
Santri
dilarang keluar dari Lingkungan/ Komplek Pondok Pesantren
c.
Semua
Guru Tahfidz Diwajibkan Untuk menginap di Pondok Pesantren
d.
Semua
Santri Wajib melalui Beberapa Titik/ Level yaitu titik toleransi, titik
target, titik haflah, titik tabarrukan, dan titik qiro’ah sab’ah.
|
3
|
Kondisi Mutu Hafalan dan Implikasi Budaya Organisasi dalam
meningkatkan Mutu Hafalan
|
Kondisi mutu hafalan di MTs
Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus bisa dikatakan sudah cukup baik. Standar
Penilaian Mutu Hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus dapat dikatakan
baik, apabila memenuhi beberapa point di bawah ini:
a.
Santri
mencapai target hafalan satu tahun 5 juz
b.
Santri
dalam mengaji/ menghafal menggunakan Tajwid yang baik dan benar yang mengacu
atau berpedoman pada Metode Yanbua jilid VI dan VII yang diterbitkan oleh
Yayasan Arwaniyah sendiri.
c.
Santri
dalam mengaji/ menghafal menggunakan Makharijul Huruf yang baik dan benar
dengan kriteria A= Sangat Baik, B= Baik, dan C= Cukup.
d.
Kelancaran
Hafalan dalam setiap maqra’/ halaman, maksimal dua kali salah. Jika
santri lupa, tetapi bisa membenarkan sendiri, maka itu tidak dianggap salah.
e.
Santri
mendapatkan nilai tahfidz di atas SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yaitu 80.
sedangkan Implikasi budaya
organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan adalah sebagai berikut:
a.
Dilihat
dari kinerja guru, Mulai tumbuh disiplin kerja, tumbuh rasa tanggung jawab, tumbuh
rasa saling menghargai dan menghormati
b.
Dilihat
dari mutu hafalan dan prestasi siswa, Mutu hafalan siswa semakin baik, tumbuh
prestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik
c.
Dilihat
dari minat masyarakat, Minat dan kepercayaan masyarakat semakin tinggi untuk
menyekolahkan anaknya di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus.
|
PEMBAHASAN
Senada dengan apa yang dikatakan oleh Sule dan Saefullah
bahwasannya budaya organisasi merupakan nilai-nilai dan norma yang dianut serta
dijalankan oleh sebuah organisasi terkait dengan lingkungan di mana organisasi
tersebut menjalankan kegiatannya. (Sule & Saefullah: 2004) Kemudian selaras
dengan apa yang diungkapkan oleh Denison bahwa budaya organisasi merupakan
nilai-nilai, keyakinan, dan prinsip-prinsip dasar yang merupakan landasan bagi
sistem dan praktik-praktik manajemen
serta perilaku yang meningkatkan dan menguatkan prinsip-prinsip tersebut.
Salah satu karakteristik penting budaya organisasi yang diungkapkan
oleh Luthans adalah nilai-nilai dominan (dominant values) yaitu adanya
nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh seluruh anggota organisasi (Luthans: 2006) Nilai-nilai organisasi biasanya tergambar di
dalam visi dan misi organisasi. Menurut Robbins, nilai cenderung relatif stabil
dan berlangsung lama. Kemudian menurut Edgar Schein nilai sulit diamati secara
langsung sehingga untuk menyimpulkannya seringkali diperlukan wawancara dengan
anggota organisasi yang mempunyai posisi kunci atau dengan menganalisis
kandungan artefak seperti dokumen.
MC. Donald dalam Oemar Hamalik mengatakan bahwa, “motivation is
a energy change within the person characterized by affective arousal and
anticipatory goal reactions”. Motivasi adalah suatu perubahan energi di
dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan
reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik: 1992)
Terdapat tujuh variabel yang berpengaruh terhadap keberhasilan
suatu organisasi yaitu 1) strategi, dan 2) struktur yang merupakan hardware
of organization, 3) gaya, 4) sistem, 5) pegawai, 6) kemampuan dan 7) budaya
organisasi (shared values) yang merupakan software of orgaization
(Moeljono: 2003). Jadi budaya organisasi adalah salah satu variabel yang
berpengaruh terhadap keberhasilan suatu organisasi.
PENUTUP
Simpulan
Setelah
melakukan penelitian dan analisis data hasil penelitian, maka ada tiga simpulan
yang sesuai dengan fokus penelitian yang dapat diambil dalam penelitian, yaitu
sebagai berikut:
Nilai-nilai
budaya organisasi yang dikembangkan dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs
Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus yakni budaya berbahasa, budaya disiplin, budaya
memotivasi dan memberikan dorongan, budaya membaca al-Qur’an dan budaya ta’dzim
atau patuh.
Norma
atau aturan yang dibuat dalam meningkatkan mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul
Qur’an Kudus yakni santri dilarang embawa Hp dan alat elektronik sejenisnya,
santri dilarang keluar dari lingkungan/ komplek Pondok Pesantren, semua guru
tahfidz diwajibkan untuk menginap di Pondok Pesantren, dan semua santri wajib
melalui beberapa titik/ level yaitu titik toleransi, titik target, titik
haflah, titik tabarrukan, dan titik qiro’ah sab’ah.
Kondisi
mutu hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus bisa dikatakan sudah cukup
baik. Standar Penilaian Mutu Hafalan di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus dapat
dikatakan baik, apabila memenuhi beberapa point berikut yaitu a) santri
mencapai target hafalan satu tahun 5 juz, b) santri dalam mengaji/ menghafal
menggunakan tajwid yang baik dan benar yang mengacu atau berpedoman pada Metode
Yanbua jilid VI dan VII yang diterbitkan oleh Yayasan Arwaniyah sendiri, c)
santri dalam mengaji/ menghafal menggunakan makharijul huruf yang baik dan
benar dengan kriteria A= sangat baik, B= baik, dan C= cukup, d) kelancaran
hafalan dalam setiap maqra’/ halaman, maksimal dua kali salah. Jika
santri lupa, tetapi bisa membenarkan sendiri, maka itu tidak dianggap salah,
serta e) santri mendapatkan nilai tahfidz di atas SKM (Standar Ketuntasan
Minimal) yaitu 80. Sedangkan Implikasi budaya organisasi dalam meningkatkan
mutu hafalan adalah sebagai berikut: a) dilihat dari kinerja guru, mulai tumbuh
disiplin kerja, tumbuh rasa tanggung jawab, tumbuh rasa saling menghargai dan
menghormati, b) dilihat dari mutu hafalan dan prestasi siswa, Mutu hafalan
siswa semakin baik, tumbuh prestasi baik dalam bidang akademik maupun non
akademik, c) dilihat dari minat masyarakat, Minat dan kepercayaan masyarakat
semakin tinggi untuk menyekolahkan anaknya di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an
Kudus.
Saran
Bagi
para pengambil kebijakan, sebagai salah satu acuan dalam mengambil kebijakan
tentang budaya organisasi dalam meningkatkan mutu hafalan siswa di sekolah atau
mutu hafalan santri di lingkungan pondok pesantren.
Bagi
pelaksana pendidikan dalam mensosialisasikan dan menanamkan nilai-nilai
madrasah atau nilai-nilai pesantren yang dimiliki, sehingga menjadi landasan
budaya yang kuat dan mampu meningkatkan kualitas para siswa dan santrinya serta
mampu meningkatkan kinerja seluruh civitas madrasah.
Bagi MTs
Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Kudus, segala norma/ aturan yang diterapkan di madrasah
supaya di tuliskan secara formal dalam sebuah buku aturan madrasah yang telah
disepakati bersama.
Bagi
peneliti selanjutnya, sebagai acuan untuk penelitian terutama dalam aspek
budaya organisasi.
Daftar Pustaka
Carapedia.com/pengertian-definisi-dampak-info2123.html. diakses
pada tanggal 13 Mei 2017 pukul 10.43 WIB
Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan
Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. 1994
Hamalik, Oemar. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru. 1992
Luthans, Fred. Perilaku Organisasi. Edisi kesepuluh.
Yogyakarta: Andi Offset. 2006
Moeljono, Djoko Santoso. Budaya Korporat dan Keunggulan
Koorporasi. Jakarta: Elex Media Komputindo. 2003
Patilima, Hamid. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta. 2004
Robbins, Stephen P. Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi. Edisi
Kelima. Jakarta: Erlangga. 2002
Rokhlinasari, Sri. Budaya Organisasi Pesantren dalam
Pengembangan Wirausaha Santri di Pesantren Wirausaha Lan Taburo Kota Cirebon,
Jurnal Holistik Volume 15 Nomor 02 tahun 2014
Sule, Ernie Tisnawati dan Kurniawan Saefullah. Pengantar
Manajemen. Edisi Pertama. Jakarta: Prenada Media. 2004
Wibowo. Budaya Organisasi Sebuah Kebutuhan Untuk Meningkatkan
Kinerja Jangka Panjang. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2010
Zuhriy, M. Syaifuddin. Budaya Pesantren dan Pendidikan Karakter
Pada Pondok Pesantren Salaf, Jurnal Walisongo, Volume 19, Nomor 2, November
2011