PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN DI PESANTREN
(Studi di Pondok
Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi)
Mufidah
UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
Kata
Kunci: Pengembangan Kurikulum, Pendidikan, Pesantren
Abstrak
Sampai saat ini pesantren masih menjadi
alternatif pilihan bagi masyarakat muslim dalam memilih pendidikan agama yang
terintregasi bagi putra putrinya. Untuk itu pesantren dituntut agar lebih
kreatif dan inovatif dalam mengembangkan kurikulum pendidikannya sehingga
memiliki daya tarik yang cukup kuat dan dapat bersaing dengan jenis pendidikan
lainnya. Kurikulum memegang peran penting dalam pendidikan karena berkaitan
dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan yang pada akhirnya menentukan
kualifikasi lulusan. Pondok pesantren Darussalam merupakan lembaga pendidikan
keagamaan yang terus berupaya mengembangkan pendidikan dan kurikulumnya,
pesantren ini didirikan oleh K.H Mukhtar Syafaat Abdul Ghofur pada tahun 1951
yang pada awalnya hanya berkonsentrasi pada tafaqquh fiddin, namun
kemudian berkembang hingga memiliki lembaga pendidikan tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis:
(1) Konsep pengembangan kurikulum yang diterapkan di Pondok Pesantren
Darussalam Banyuwangi; (2) Model pengembangan
kurikulum di Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi. Penelitian ini merupakan
penelitian lapangan field research dengan pendekatan kualitatif.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Setelah data terkumpul dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data,
dan verifikasi atau menarik kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data
dilakukan melalui trianggulasi data.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)
Konsep pengembangan kurikulum pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam
menggunakan pendekatan diferensiasi dan diklasifikasikan dalam tiga kelompok
yakni: (a) ma’hadiyah dengan subyek akademik berbasis kitab kuning dan
sosial kemasyarakatan; (b) pendidikan formal menekankan pendidikan terintregasi
antara umum dan agama; dan (c) pendidikan diniyah yang bersifat semi-formal
yang berbasis penguasaan kitab-kitan salaf dan ilmu alatnya. (2) Model
Pengembangan kurikulum di pondok Pesantren Darussalam adalah Model Beauchamp
yaitu dengan menetapkan arena atau ruang lingkup wilayah
yang dicakup oleh kurikulum, menetapkan personalia yang akan terlibat dalam pengembangan kurikulum
tersebut.
PENDAHULUAN
Pendidikan yang berpusat pada tafaqquh fiddin atau yang dikenal dengan pendidikan diniyah sebenarnya
sudah lahir seiring perkembangan
pendidikan Islam di Nusantara. Pada zaman penjajahan Belanda, pendidikan Islam
mendominasi sistem pendidikan dan pengajaran di masyarakat kala itu. Dalam
perkembangannya pedidikan Islam di Nusantara diklasifikasikan menjadi tiga;
sistem pendidikan peralihan Hindu-Islam, sistem pendidikan langgar, dan sistem
pendidikan pondok pesantren. Pada saat itu sistem pendidikan pondok pesantren
sudah termasuk sistem pendidikan formal dimana para santri menempati kompleks pemondokan
yang berada di lingkungan tempat belajar. Meski demikian, secara institusional,
pendidikan Islam seperti pondok pesantren jauh tertinggal dibanding
sekolah-sekolah yang diselenggarakan pemerintah (Yusuf:2006). Pesantren juga
kalah bersaing dalam menawarkan suatu model pendidikan kompetitif yang mampu
melahirkan output yang memiliki
kompetensi dalam penguasaan ilmu sekaligus skill
yang dapat menjadi modal dan bekal terjun dalam kehidupan masyarakat yang
terus mengalami percepatan perubahan akibat modernisasi yang ditopang
kecanggihan sains dan teknologi (Babun: 2011). Upaya untuk mengatasi
ketertinggalan tersebut dilakukan dengan memperkenalkan sistem madrasah.
Model pendidikan yang ditawarkan oleh masing- masing
pesantren merupakan upaya pengelola pesantren agar pesantren memiliki daya
pikat bagi masyarakat yang kian berfikir modern dan memtuhkan suatu lembaga
pendidikan yang dapat memberikan pendidikan- pendidikan yang bisa menjadi bekal
bagi kehidupan dunia dan akhirat. Laporan tersebut di atas menandakan bahwa
pesantren terus berinovasi dengan mengembangkan kurikulum pendidikannya serta
menyesuaikan diri dengan perkembangan kurikulum pendidikan yang ditawarkan oleh
pemerintah dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Oleh karena
itu sampai saat ini pesantren masih menjadi alternatif pilihan masyarakat dalam
memilih lembaga pendidikan bagi putra putrinya. Untuk itu pesantren dituntut
agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan kurikulum pendidikannya
sehingga memikliki daya tarik yang cukup kuat dan dapat bersaing dengan jenis
pendidikan lainnya.
Sebagai rancangan pendidikan, kurikulum memiliki
kedudukan yang sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan. Suryobroto
menjelaskan bahwa kurikulum adalah pengalaman yang diberikan oleh sekolah
kepada seluruh anak didiknya baik dilakukan di dalam atau di luar sekolah.
(Suryobroto: 2002).
Kurikulum sangat dibutuhkan oleh semua lembaga pendidikan
termasuk pesantren dan madrasah diniyah yang berorientasi pada pendidikan salaf
sekalipun. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih
terarah. Kurikulum yang dipergunakan oleh pondok pesantren dalam melaksanakan
pendidikannya tidak sama dengan kurikulum yang digunakan oleh lembaga
pendidikan formal, bahkan tidak sama antara satu pondok pesantren dengan pondok
pesantren lainnya karena pada dasarnya kurikulum yang dikembangkan merupakan
bentuk hidden curriculum. Namun demikian bukan berarti pesantren tidak
dapat menyerap hal-halyang dapat diterapkan dalam mengembangkan kurikulumnya.
Pada umumnya, kurikulum pondok pesantren yang menjadi arah pembelajaran
tertentu (manhaj) diwujudkan dalam
bentuk penetapan kitab-kitab tertentu yang akan dikaji sesuai dengan tingkatan
ilmu pengetahuan santri (Depag RI).
Pondok pesantren Darussalam merupakan lembaga pendidikan
keagamaan yang terus berupaya mengembangkan pendidikan dan kurikulumnya. Pesantren
ini didirikan oleh K.H Mukhtar Syafaat Abdul Ghofur pada tahun 1951. Pada
awalnya pondok pesantren Darussalam hanya menyediakan pendidikan keagamaan yangpure
bersifat tafaqquh fiddin atau pendidikan diniyah yang berkonsentrasi
pada pembelajaran ilmu-ilmu agama saja. Namun pada perkembangannya hingga saat
ini yayasan pondok pesantren Darussalam telah memiliki berbagai macam unit
lembaga pendidikan mulai dari Pendidikan Usia Dini dan Taman Kanak- Kanak
(PAUD/ TK) hingga Perguruan Tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren
Darussalam Banyuwangi tentu juga memiliki standar kurikulum yang juga sekaligus
menjadi ciri khas dan daya tarik tersendiri bagi para peminatnya. Pengembangan
kurikulum yang dilakukan oleh pondok pesantren Darussalam adalah sebagai upaya
untuk meningkatkan mutu pendidikannya sekaligus menjawab tantangan perkembangan
zaman. Hal ini terbukti dengan pencapaian prestasi yang diperoleh para
santrinya, baik dalam bidang akademik melalui jalur pendidikan formalnya maupun
prestasi non akademik yang diperoleh melalui jalur pendidikan non formalnya.
Berdasarkan konteks tersebut, menjadi hal yang menarik
bagi penulis untuk mengkaji lebih lanjut tentang pengembangan kurikulum
pendidikan yang di terapkan pondok pesantren Darussalam tersebut.
METODE
PENELITIAN
Desain
Penelitian
Penelitian tentang pengembangan kurikulum pendidikan yang
diterapkan oleh pondok pesantren Darussalam Banyuwangi adalah jenis field
research dengan kekhasan pendekatan data kualitatif yang bertujuan untuk
menggali informasi mendalam mengenai penerapan kurikulum di Pondok Pesantren
Darussalam Blokagung Banyuwangi. Penelitian tentang pengembangan kurikulum
pendidikan yang akan dilakukan oleh peneliti adalah dengan menggunakan
pendekatan studi kasus yang terjadi
Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.
Informan
Dalam penelitian ini yang menjadi informan kunci adalah
pengasuh (kyai atau ketua yayasan), kepala kepesantrenan, kepala madrasah
diniyah, wakil kepala madrasah bidang kurikulum, dan para ustadz-ustadzah.
Sedangkan untuk informan pendukung adalah wakil kepala madrasah selain wakil bidang
kurikulum dan para murid.
Teknik Pengumpulan Data
Peneliti
menggunakan teknik observasi non partisipan artinya peneliti tidak ikut dalam
proses kegiatan, yang dilakukan hanya mengamati dan mempelajari kegiatan dalam
rangka memahami, mencari jawaban dan mencari bukti terkait Konsep dan Model
Pengembangan Kurikulum Pesantren di Pondok Pesnatren Darussalam Blokagung.
Wawancara
yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara yang terstruktur artinya
wawancara dengan perencanaan dan telah tersusun secara sistematis untuk
pengumpulan data yang diperlukan. Wawancara terstruktur ini peneliti gunakan
untuk mewawancarai narasumber seperti pengasuh, pimpinan pesantren, kepala
madrasah dan wakil bidang kurikulum. Namun demikian karena ingin menggali
informasi yang lebih detail dan akurat, peneliti juga menggunakan tipe semi structured interviews dan informal interviews.
Analisa Data
Penelitian ini menggunakan
teknik analisis data kualitatif deskriptif, yaitu analisa data yang berpedoman
pada metode berpikir induksi dan deduksi. Analisis data ini untuk menjawab
pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian, yaitu mengapa dan bagaimana. Data dikumpulkan dengan
berbagai teknik pengumpulan data (triangulasi), yaitu merupakan penggabungan
dari berbagai macam teknik pengumpulan data baik wawancara, observasi, maupun
dengan menggunakan angket. Semakin banyak data terkumpul, maka hasil penelitian
yang didapat semakin bagus. (Patilima: 2004) Data yang sudah terkumpul kemudian
data dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang
penting dan dicari tema serta polanya. Data yang telah direduksi akan
memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan
pengumpulan data selanjutnya dan mencari data berikutnya jika diperlukan.
Data-data yang tidak terpakai dibuang, sehingga peneliti lebih fokus pada data
yang telah tereduksi. (Patilima: 2004) Setelah data direduksi, maka langkah
selanjutnya adalah mendisplaykan data. Display data berupa tabel. Display data
dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan
antar kategori dan flowchart. Penyajian data dengan menggunakan teks yang
bersifat naratif. (Patilima: 2004) Langkah berikutnya dalam analisis data
adalah verifikasi yaitu memverifikasi data dan menarik kesimpulan. Kesimpulan
yang diambil harus didukung oleh data-data yang valid dan konsisten. Sehingga
kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan yang
diperoleh merupakan jawaban dari fokus penelitian.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)
Konsep pengembangan kurikulum pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam
menggunakan pendekatan diferensiasi dan diklasifikasikan dalam tiga kelompok
yakni: (a) Ma’hadiyah dengan subyek akademik berbasis kitab kuning dan
sosial kemasyarakatan; (b) Pendidikan formal menekankan pendidikan terintregasi
antara umum dan agama; dan (c) Pendidikan diniyah yang bersifat semi-formal
yang berbasis penguasaan kitab-kitan salaf dan ilmu alatnya. (2) Model
Pengembangan kurikulum di pondok Pesantren Darussalam adalah Model Beauchamp
yaitu dengan menetapkan arena atau ruang lingkup wilayah
yang dicakup oleh kurikulum, menetapkan personalia yang akan terlibat dalam pengembangan kurikulum
tersebut.
PEMBAHASAN
Sebagai
lembaga pendidikan Islam, Pondok Pesantren Darussalam merupakan pesantren yang menerapkan pola
pendidikan pesantren kombinasi. Pola pendidikan pesantren kombinasi, menyatukan
sistem pendidikan pesantren modern dan tradisional/ salafiyah. Menurut Dhofier (Dhofier: 2011). Pesantren
dengan pola tersebut adalah pesantren tipe baru. Pesantren Darussalam
mengembangkan kurikulum pendidikannya secara berimbang yakni dengan tetap
mempertahankan pembelajaran yang bersumber dari kitab-kitab ulama klasik (salaf)
atau kitab kuning melalui kegiatan dan program ma’hadiyah, juga
memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi santri agar mampu menyampaikan
keilmuannya sesuai dengan tujuan awal pesantren yakni sebagai pelestarian
pendidikan dan dakwah Islam.
Menurut
Azra, Pesantren jenis kombinasi dapat mengakomodasi hampir keseluruhan harapan
masyarakat secara sekaligus pada pesantren. Harapan pertama dan
utama adalah agar pesantren tetap menjalankan peran krusialnya dalam tiga hal
pokok. 1. Transmisi ilmu- ilmu dan pengetahuan Islam (Transmissions of
Islamic Knowledge) 2. Pemeliharaan tradisi Islam (Maintenance Of
Tradistions) 3. Reproduksi calon- calon ulama (Reproduction of Ulama).
Harapan kedua agar para santri tidak hanya mengetahui ilmu agama
tetapi juga ilmu umum. Dengan demikian santri juga berperan dalam mobilitas
pendidikan. Harapan ketiga agar para santri memiliki
keterampilan, keahlian, atau life skills khususnya dalam bidang sains dan
teknologi yang menjadi karakter dan ciri masa globalisasi. Sehingga mereka
memiliki dasar competitif advantage dalam lapangan kerja (Azra: 2012).
Temuan
penelitian di lapangan menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum di yayasan
pondok pesantren Darussalam sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
yang dikemukakan oleh para ahli. Seperti telah disinggung dalam kajian pustaka
di bab dua tulisan ini bahwa pengembangan kurikulum selayaknya berdasar pada
prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Berorientasi pada tujuan. Pengembangan kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu baik dari aspek pengetahuan, keteramplan, sikap maupun nilai.
- Prinsip relevansi. Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi, dan evaluasi harus relevan atau sesuai dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa dan juga perkembangan ilmu pengetahuan.
- Prinsip efisiensi dan efektifitas. Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan segi efisiensi dalam pendayaggunaan dana, waktu, tenaga, dan sumber-sumber yang tersedia agar hasilnya maksimal.
- Prinsip fleksibilitas atau keluwesan. Kurikulum seharusnya bersifat luwes, mudah disesuaikan, dilengkapi atau dikurangi berdasrkan tuntutan dan keadaan, jadi tidak statis dan kaku.
Pesantren
Darussalam melakukan beberapa langkah dalam melaksanakan pengembangan kurikulum
pendidikan baik yang bersifat ma’hadiyah maupun pendidikan formal.
Langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang dilakukan
Pesantren Darussalam, jika merujuk pada model pengembangan yang dirumuskan oleh
ahli kurikulum, model pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh Pesantren Darussalam
merupaka perpaduan antara model Top-Down
dan Grass Root, namun dalam prakteknya kurikulum pesantren
Darussalam lebih cenderung mirip dengan model yang di kembangkan
Beauchamp.
Pengembangan
model Grass-Root merupakan model pemngmabngan dimana inisiatif datang
dari bawah, yaitu guru-guru dan pihak sekolah. Model ini berkembang dalam
sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model ini seorang guru
atau sekelompok guru di suatu lembaga mengadakan suatu usaha pengembangan
kurikulum baik berkenaan dengan komponen kurikulum ataupun suatu bidang studi.
Jika berjalan dengan lancar model ini akan lebih baik dengan pertimbangan bahwa
guru adalah perencana, pelaksana dan juga penyempurna dari pengajaran di
kelasnya.
Sementara
model Beauchamp sebagaimana dikutip oleh Sukmadinata terdapat langkah-langkah
dalam melakukan pengembangan kurikulum di antaranya yaitu:
1. Menetapkan arena atau ruang
lingkup wilayah yang dicakup oleh kurikulum tersebut, dalam hal ini kurikulum
dikembangkan mencakup satu lembaga pendidikan, yaitu Pesantren Darussalam.
2. Menetapkan personalia, dalam hal
ini Pesantren Darussalam menentukan anggota dalam rapat yang terdiri atas
beberapa personel yang berpengalaman dalam bidang pendidikan dan pesantren
(Pihak Yayasan/dewan pengasuh/kyai) dan ustadz-ustadzah sesuai keahlian pada
bidang/mata pelajaran masing-masing, seperti ahli dalam pembelajaran al-Qur’an,
ahli dalam pembelajaran kitab salaf, yang kemudian disetujui oleh pihak
Yayasan Pondok Pesantren Darussalam. Pesantren Darussalam dalam menentukan
personel dalam tim pengembangan kurikulum keagamaan/kepesantrenannya hanya
melibatkan tim ahli pendidikan dan guru-guru tingkat lokal pesantren saja yang
tentunya sudah berpegalaman dibidang pendidikan dan pesantren, yang sebelumnya telah
melakukan studi banding dengan beberapa pesantren.
3.
Organisasi dan prosedur
pengembangan kurikulum. Tahapan ini dilaksankan dengan:
a. Membagi tim berdasarkan bidang
dan keahlian, terdiri dari para ustadz-ustadzah, kepala bidang dan ketua
asrama, Dewan Pengasuh, Kepala Bidang
Pendidikan dan Pengajaran Yayasan Islam Darussalam, Kepala Bidang SDM dan
beberapa ahli yang berpengalaman sesuai bidangnya, seperti ahli dalam bahasa
Arab, ahli dalam kitab kuning (salaf) serta ahli dari ilmu al-Qur‟an.
Kemudian membagi para peserta rapat kerja tersebut dalam beberapa bagian atau
komisi.
b. Mengadakan penilaian terhadap
kurikulum yang sedang digunakan, setelah itu meneliti apa saja yang menjadi
kekurangan dari kurikulum yang sedang digunakan untuk selanjutnya memberikan
masukan berupa beberapa usulan dari masing-masing komisi untuk bahan
pertimbangan bagi pelaksanaan kurikulum selanjutnya.
c. Merumuskan kriteria-kriteria bagi
penentuan kurikulum baru, selanjutnya masing-masing tim yang terbagi menjadi
beberapa komisi di atas menentukan program-program masing-masing.
Program-program tersebut berupa program kegiatan semester/tahunan, pedoman
proses pembelajaran, dan pedoman penilaian hasil belajar.
d. Setelah menentukan
program-program sesuai bidang masing-masing, pada masing-masing program
tersebut di rumuskan komponen-komponen kurikulum, yaitu:
1. Merumuskan tujuan pembelajaran
2. Memilih materi/isi: dengan
menentukan kitab-kitab yang digunakan dalam setiap jenjang dan tingkat
pendidikan, dan menyusun silabus pembelajaran, dan menentukan batasan-batasan
pencapaian minimum materi pembelajaran
3.
Menentukan pengalaman belajar
4.
Menentukan strategi atau metode
pembelajaran pada masing-masing bidang
5.
Menentukan kriteria
evaluasi/penilaian hasil belajar.
6.
Penulisan dan penyusunan
kurikulum baru.
7.
Implementasi Kurikulum. Kurikulum
yang telah direncanankan kemudian dilaksanakan sesuai keputusan yang telah
ditetapkan. (Sukmadinata: )
PENUTUP
Simpulan
Pondok
Pesantren Darussalam adalah pondok pesantren
tipe kombinasi yang menyatukan
sistem pendidikan pesantren modern dan tradisional/salafiyah.
Pesantren
Darussalam melakukan pengembangan
kurikulum pendidikan dengan menggunakan model pengembangan kurikulum yang
diterapkan oleh Beauchamp. Langkah-langkah pengembangan yang dilakukan, yaitu
dengan membentuk tim yang terdiri dari beberapa orang yang berpengalaman dalam
bidang kurikulum dan kepesantrenan serta pengasuh dan beberapa perwakilan ustadz-ustadzah;
pengorganisasian dan prosedur pengembangan kurikulum dengan melakukan penilaian
terhadap kurikulum yang sedang digunakan, menentukan kriteria-kriteria untuk
menentukan kurikulum yang baru, merumuskan komponen-komponen kurikulum;
mengimplementasikan kurikulum; dan mengevaluasi kurikulum. Pengembangan
kurikulum pendidikan juga dilakukan
dengan memisahkan antara kurikulum ma’hadiyah
(kepesantrenan) dengan kurikulum sekolah/madrasah formal, dan kurikulum
madrasah diniyah sehingga menghasilkan kurikulum yang seimbang.
Rekomendasi
1. Pesantren Darussalam hendaknya
terus melakukan pengembangan kurikulum pendidikannya dengan lebih mengembangkan
unsur-unsur yang terkait dengan kurikulum, seperti pembuatan silabus dan RPP
yang lebih rinci lagi sebagaimana silabus dan RPP yang diterapkan oleh para
ahli kurikulum dan digunakan oleh sekolah/madrasah fomal. terlebih untuk
pengembangan kurikulum ma’hadiyahnya.
2. Pesantren Darussalam perlu
melestarikan materi-materi pedidikan yang bersumber dari
kitab-kitab karangan ulama salaf dan
ulama kontemporer yang belum digunakan, agar santri mendapatkan informasi
ilmu-ilmu keagamaan yang lebih luas lagi dan dapat meningkatkan kemampuan
santri dalam penguasaan kitab-kitab tersebut.
3. Pesantren Darussalam perlu lebih
meningkatkan metode pembelajaran,
seperti metode diskusi dengan mengadakan diskusi-diskusi ilmiah,
seminar-seminar baik dalam lingkup pesantren maupun bersama pesantren-pesantren
lain yang berkaitan dengan pendidikan pesantren dan meningkatkan metode
menterjemah berbahasa Arab.
Daftar Pustaka
Azra,
Azyumardi. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan
Milenuim III. Cet I. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2012.
Departemen
Agama RI Direktorat Jendereal Kelembagaan Islam, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah
Dhofier,
Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya
Mengenai Masa Depan Indonesia. Cet 11. Jakarta: LP3ES. 2011
Suharto,
Babun. Dari Pesantren Untuk Umat
Reinventig Eksistensi Pesantren di Era Globalisasi. Cet I. Surabaya:
Imtiyaz. 2011
Sukmadinata,
Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum
Suryobroto,
Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta:
Rineka Cipta. 2002
Yusuf,
Choirul Fuad dkk, Inovasi Pendidikan
Agama dan Keagamaan. Cet I.
Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat
Departemen Agama RI. 2006.