Sabtu, 23 Desember 2017

mas tam

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN DI PESANTREN

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN DI PESANTREN
(Studi di  Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi)

Mufidah
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Kata Kunci: Pengembangan Kurikulum, Pendidikan, Pesantren

Abstrak
Sampai saat ini pesantren masih menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat muslim dalam memilih pendidikan agama yang terintregasi bagi putra putrinya. Untuk itu pesantren dituntut agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan kurikulum pendidikannya sehingga memiliki daya tarik yang cukup kuat dan dapat bersaing dengan jenis pendidikan lainnya. Kurikulum memegang peran penting dalam pendidikan karena berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan yang pada akhirnya menentukan kualifikasi lulusan. Pondok pesantren Darussalam merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang terus berupaya mengembangkan pendidikan dan kurikulumnya, pesantren ini didirikan oleh K.H Mukhtar Syafaat Abdul Ghofur pada tahun 1951 yang pada awalnya hanya berkonsentrasi pada tafaqquh fiddin, namun kemudian berkembang hingga memiliki lembaga pendidikan tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) Konsep pengembangan kurikulum yang diterapkan di Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi; (2)  Model pengembangan kurikulum di Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan field research dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah data terkumpul dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau menarik kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data dilakukan melalui trianggulasi data.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Konsep pengembangan kurikulum pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam menggunakan pendekatan diferensiasi dan diklasifikasikan dalam tiga kelompok yakni: (a) ma’hadiyah dengan subyek akademik berbasis kitab kuning dan sosial kemasyarakatan; (b) pendidikan formal menekankan pendidikan terintregasi antara umum dan agama; dan (c) pendidikan diniyah yang bersifat semi-formal yang berbasis penguasaan kitab-kitan salaf dan ilmu alatnya. (2) Model Pengembangan kurikulum di pondok Pesantren Darussalam adalah Model Beauchamp yaitu dengan menetapkan arena atau ruang lingkup wilayah yang dicakup oleh kurikulum, menetapkan personalia yang akan terlibat dalam pengembangan kurikulum tersebut.
PENDAHULUAN
Pendidikan yang berpusat pada tafaqquh fiddin atau yang dikenal dengan pendidikan diniyah sebenarnya sudah  lahir seiring perkembangan pendidikan Islam di Nusantara. Pada zaman penjajahan Belanda, pendidikan Islam mendominasi sistem pendidikan dan pengajaran di masyarakat kala itu. Dalam perkembangannya pedidikan Islam di Nusantara diklasifikasikan menjadi tiga; sistem pendidikan peralihan Hindu-Islam, sistem pendidikan langgar, dan sistem pendidikan pondok pesantren. Pada saat itu sistem pendidikan pondok pesantren sudah termasuk sistem pendidikan formal dimana para santri menempati kompleks pemondokan yang berada di lingkungan tempat belajar. Meski demikian, secara institusional, pendidikan Islam seperti pondok pesantren jauh tertinggal dibanding sekolah-sekolah yang diselenggarakan pemerintah (Yusuf:2006). Pesantren juga kalah bersaing dalam menawarkan suatu model pendidikan kompetitif yang mampu melahirkan output yang memiliki kompetensi dalam penguasaan ilmu sekaligus skill yang dapat menjadi modal dan bekal terjun dalam kehidupan masyarakat yang terus mengalami percepatan perubahan akibat modernisasi yang ditopang kecanggihan sains dan teknologi (Babun: 2011). Upaya untuk mengatasi ketertinggalan tersebut dilakukan dengan memperkenalkan sistem madrasah.
Model pendidikan yang ditawarkan oleh masing- masing pesantren merupakan upaya pengelola pesantren agar pesantren memiliki daya pikat bagi masyarakat yang kian berfikir modern dan memtuhkan suatu lembaga pendidikan yang dapat memberikan pendidikan- pendidikan yang bisa menjadi bekal bagi kehidupan dunia dan akhirat. Laporan tersebut di atas menandakan bahwa pesantren terus berinovasi dengan mengembangkan kurikulum pendidikannya serta menyesuaikan diri dengan perkembangan kurikulum pendidikan yang ditawarkan oleh pemerintah dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Oleh karena itu sampai saat ini pesantren masih menjadi alternatif pilihan masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan bagi putra putrinya. Untuk itu pesantren dituntut agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan kurikulum pendidikannya sehingga memikliki daya tarik yang cukup kuat dan dapat bersaing dengan jenis pendidikan lainnya.
Sebagai rancangan pendidikan, kurikulum memiliki kedudukan yang sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan. Suryobroto menjelaskan bahwa kurikulum adalah pengalaman yang diberikan oleh sekolah kepada seluruh anak didiknya baik dilakukan di dalam atau di luar sekolah. (Suryobroto: 2002).
Kurikulum sangat dibutuhkan oleh semua lembaga pendidikan termasuk pesantren dan madrasah diniyah yang berorientasi pada pendidikan salaf sekalipun. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih terarah. Kurikulum yang dipergunakan oleh pondok pesantren dalam melaksanakan pendidikannya tidak sama dengan kurikulum yang digunakan oleh lembaga pendidikan formal, bahkan tidak sama antara satu pondok pesantren dengan pondok pesantren lainnya karena pada dasarnya kurikulum yang dikembangkan merupakan bentuk hidden curriculum. Namun demikian bukan berarti pesantren tidak dapat menyerap hal-halyang dapat diterapkan dalam mengembangkan kurikulumnya. Pada umumnya, kurikulum pondok pesantren yang menjadi arah pembelajaran tertentu (manhaj) diwujudkan dalam bentuk penetapan kitab-kitab tertentu yang akan dikaji sesuai dengan tingkatan ilmu pengetahuan santri (Depag RI).
Pondok pesantren Darussalam merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang terus berupaya mengembangkan pendidikan dan kurikulumnya. Pesantren ini didirikan oleh K.H Mukhtar Syafaat Abdul Ghofur pada tahun 1951. Pada awalnya pondok pesantren Darussalam hanya menyediakan pendidikan keagamaan yangpure bersifat tafaqquh fiddin atau pendidikan diniyah yang berkonsentrasi pada pembelajaran ilmu-ilmu agama saja. Namun pada perkembangannya hingga saat ini yayasan pondok pesantren Darussalam telah memiliki berbagai macam unit lembaga pendidikan mulai dari Pendidikan Usia Dini dan Taman Kanak- Kanak (PAUD/ TK) hingga Perguruan Tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Darussalam Banyuwangi tentu juga memiliki standar kurikulum yang juga sekaligus menjadi ciri khas dan daya tarik tersendiri bagi para peminatnya. Pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh pondok pesantren Darussalam adalah sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikannya sekaligus menjawab tantangan perkembangan zaman. Hal ini terbukti dengan pencapaian prestasi yang diperoleh para santrinya, baik dalam bidang akademik melalui jalur pendidikan formalnya maupun prestasi non akademik yang diperoleh melalui jalur pendidikan non formalnya.
Berdasarkan konteks tersebut, menjadi hal yang menarik bagi penulis untuk mengkaji lebih lanjut tentang pengembangan kurikulum pendidikan yang di terapkan pondok pesantren Darussalam tersebut.


METODE PENELITIAN                                                                                                         
Desain Penelitian
Penelitian tentang pengembangan kurikulum pendidikan yang diterapkan oleh pondok pesantren Darussalam Banyuwangi adalah jenis field research dengan kekhasan pendekatan data kualitatif yang bertujuan untuk menggali informasi mendalam mengenai penerapan kurikulum di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Penelitian tentang pengembangan kurikulum pendidikan yang akan dilakukan oleh peneliti adalah dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang terjadi  Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.
Informan
Dalam penelitian ini yang menjadi informan kunci adalah pengasuh (kyai atau ketua yayasan), kepala kepesantrenan, kepala madrasah diniyah, wakil kepala madrasah bidang kurikulum, dan para ustadz-ustadzah. Sedangkan untuk informan pendukung adalah wakil kepala madrasah selain wakil bidang kurikulum dan para murid.


Teknik Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan teknik observasi non partisipan artinya peneliti tidak ikut dalam proses kegiatan, yang dilakukan hanya mengamati dan mempelajari kegiatan dalam rangka memahami, mencari jawaban dan mencari bukti terkait Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum Pesantren di Pondok Pesnatren Darussalam Blokagung.
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara yang terstruktur artinya wawancara dengan perencanaan dan telah tersusun secara sistematis untuk pengumpulan data yang diperlukan. Wawancara terstruktur ini peneliti gunakan untuk mewawancarai narasumber seperti pengasuh, pimpinan pesantren, kepala madrasah dan wakil bidang kurikulum. Namun demikian karena ingin menggali informasi yang lebih detail dan akurat, peneliti juga menggunakan tipe semi structured interviews dan informal interviews.
Analisa Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif deskriptif, yaitu analisa data yang berpedoman pada metode berpikir induksi dan deduksi. Analisis data ini untuk menjawab pertanyaan yang dirumuskan dalam penelitian, yaitu mengapa dan bagaimana. Data dikumpulkan dengan berbagai teknik pengumpulan data (triangulasi), yaitu merupakan penggabungan dari berbagai macam teknik pengumpulan data baik wawancara, observasi, maupun dengan menggunakan angket. Semakin banyak data terkumpul, maka hasil penelitian yang didapat semakin bagus. (Patilima: 2004) Data yang sudah terkumpul kemudian data dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema serta polanya. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencari data berikutnya jika diperlukan. Data-data yang tidak terpakai dibuang, sehingga peneliti lebih fokus pada data yang telah tereduksi. (Patilima: 2004) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Display data berupa tabel. Display data dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan flowchart. Penyajian data dengan menggunakan teks yang bersifat naratif. (Patilima: 2004) Langkah berikutnya dalam analisis data adalah verifikasi yaitu memverifikasi data dan menarik kesimpulan. Kesimpulan yang diambil harus didukung oleh data-data yang valid dan konsisten. Sehingga kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan yang diperoleh merupakan jawaban dari fokus penelitian.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Konsep pengembangan kurikulum pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam menggunakan pendekatan diferensiasi dan diklasifikasikan dalam tiga kelompok yakni: (a) Ma’hadiyah dengan subyek akademik berbasis kitab kuning dan sosial kemasyarakatan; (b) Pendidikan formal menekankan pendidikan terintregasi antara umum dan agama; dan (c) Pendidikan diniyah yang bersifat semi-formal yang berbasis penguasaan kitab-kitan salaf dan ilmu alatnya. (2) Model Pengembangan kurikulum di pondok Pesantren Darussalam adalah Model Beauchamp yaitu dengan menetapkan arena atau ruang lingkup wilayah yang dicakup oleh kurikulum, menetapkan personalia yang akan terlibat dalam pengembangan kurikulum tersebut.

PEMBAHASAN

Sebagai lembaga pendidikan Islam, Pondok Pesantren Darussalam  merupakan pesantren yang menerapkan pola pendidikan pesantren kombinasi. Pola pendidikan pesantren kombinasi, menyatukan sistem pendidikan pesantren modern dan tradisional/ salafiyah.  Menurut Dhofier (Dhofier: 2011). Pesantren dengan pola tersebut adalah pesantren tipe baru. Pesantren Darussalam mengembangkan kurikulum pendidikannya secara berimbang yakni dengan tetap mempertahankan pembelajaran yang bersumber dari kitab-kitab ulama klasik (salaf) atau kitab kuning melalui kegiatan dan program ma’hadiyah, juga memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi santri agar mampu menyampaikan keilmuannya sesuai dengan tujuan awal pesantren yakni sebagai pelestarian pendidikan dan dakwah Islam.

Menurut Azra, Pesantren jenis kombinasi dapat mengakomodasi hampir keseluruhan harapan masyarakat secara sekaligus pada pesantren. Harapan pertama dan utama adalah agar pesantren tetap menjalankan peran krusialnya dalam tiga hal pokok. 1. Transmisi ilmu- ilmu dan pengetahuan Islam (Transmissions of Islamic Knowledge) 2. Pemeliharaan tradisi Islam (Maintenance Of Tradistions) 3. Reproduksi calon- calon ulama (Reproduction of Ulama). Harapan kedua agar para santri tidak hanya mengetahui ilmu agama tetapi juga ilmu umum. Dengan demikian santri juga berperan dalam mobilitas pendidikan. Harapan ketiga agar para santri memiliki keterampilan, keahlian, atau life skills khususnya dalam bidang sains dan teknologi yang menjadi karakter dan ciri masa globalisasi. Sehingga mereka memiliki dasar competitif advantage dalam lapangan kerja (Azra: 2012).

Temuan penelitian di lapangan menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum di yayasan pondok pesantren Darussalam sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli. Seperti telah disinggung dalam kajian pustaka di bab dua tulisan ini bahwa pengembangan kurikulum selayaknya berdasar pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
  1. Berorientasi pada tujuan. Pengembangan kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu baik dari aspek pengetahuan, keteramplan, sikap maupun nilai.
  2. Prinsip relevansi. Pengembangan kurikulum yang meliputi tujuan, isi, dan evaluasi harus relevan atau sesuai dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa dan juga perkembangan ilmu pengetahuan.
  3. Prinsip efisiensi dan efektifitas. Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan segi efisiensi dalam pendayaggunaan dana, waktu, tenaga, dan sumber-sumber yang tersedia agar hasilnya maksimal.
  4. Prinsip fleksibilitas atau keluwesan. Kurikulum seharusnya bersifat luwes, mudah disesuaikan, dilengkapi atau dikurangi berdasrkan tuntutan dan keadaan, jadi tidak statis dan kaku.  


Pesantren Darussalam melakukan beberapa langkah dalam melaksanakan pengembangan kurikulum pendidikan baik yang bersifat ma’hadiyah maupun pendidikan formal. Langkah-langkah dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang dilakukan Pesantren Darussalam, jika merujuk pada model pengembangan yang dirumuskan oleh ahli kurikulum, model pengembangan kurikulum yang dilakukan oleh Pesantren Darussalam merupaka perpaduan antara model  Top-Down dan Grass Root, namun dalam prakteknya kurikulum pesantren Darussalam lebih cenderung mirip dengan model yang di kembangkan Beauchamp. 

Pengembangan model Grass-Root merupakan model pemngmabngan dimana inisiatif datang dari bawah, yaitu guru-guru dan pihak sekolah. Model ini berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model ini seorang guru atau sekelompok guru di suatu lembaga mengadakan suatu usaha pengembangan kurikulum baik berkenaan dengan komponen kurikulum ataupun suatu bidang studi. Jika berjalan dengan lancar model ini akan lebih baik dengan pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya.

Sementara model Beauchamp sebagaimana dikutip oleh Sukmadinata terdapat langkah-langkah dalam melakukan pengembangan kurikulum di antaranya yaitu:
1.    Menetapkan arena atau ruang lingkup wilayah yang dicakup oleh kurikulum tersebut, dalam hal ini kurikulum dikembangkan mencakup satu lembaga pendidikan, yaitu Pesantren Darussalam.
2.   Menetapkan personalia, dalam hal ini Pesantren Darussalam menentukan anggota dalam rapat yang terdiri atas beberapa personel yang berpengalaman dalam bidang pendidikan dan pesantren (Pihak Yayasan/dewan pengasuh/kyai) dan ustadz-ustadzah sesuai keahlian pada bidang/mata pelajaran masing-masing, seperti ahli dalam pembelajaran al-Qur’an, ahli dalam pembelajaran kitab salaf, yang kemudian disetujui oleh pihak Yayasan Pondok Pesantren Darussalam. Pesantren Darussalam dalam menentukan personel dalam tim pengembangan kurikulum keagamaan/kepesantrenannya hanya melibatkan tim ahli pendidikan dan guru-guru tingkat lokal pesantren saja yang tentunya sudah berpegalaman dibidang pendidikan dan pesantren, yang sebelumnya telah melakukan studi banding dengan beberapa pesantren.
3.      Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Tahapan ini dilaksankan  dengan:
a.   Membagi tim berdasarkan bidang dan keahlian, terdiri dari para ustadz-ustadzah, kepala bidang dan ketua asrama,  Dewan Pengasuh, Kepala Bidang Pendidikan dan Pengajaran Yayasan Islam Darussalam, Kepala Bidang SDM dan beberapa ahli yang berpengalaman sesuai bidangnya, seperti ahli dalam bahasa Arab, ahli dalam kitab kuning (salaf) serta ahli dari ilmu al-Qur‟an. Kemudian membagi para peserta rapat kerja tersebut dalam beberapa bagian atau komisi.
b.    Mengadakan penilaian terhadap kurikulum yang sedang digunakan, setelah itu meneliti apa saja yang menjadi kekurangan dari kurikulum yang sedang digunakan untuk selanjutnya memberikan masukan berupa beberapa usulan dari masing-masing komisi untuk bahan pertimbangan bagi pelaksanaan kurikulum selanjutnya.
c.    Merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru, selanjutnya masing-masing tim yang terbagi menjadi beberapa komisi di atas menentukan program-program masing-masing. Program-program tersebut berupa program kegiatan semester/tahunan, pedoman proses pembelajaran, dan pedoman penilaian hasil belajar.
d.   Setelah menentukan program-program sesuai bidang masing-masing, pada masing-masing program tersebut di rumuskan komponen-komponen kurikulum, yaitu:
1.   Merumuskan tujuan pembelajaran
2.   Memilih materi/isi: dengan menentukan kitab-kitab yang digunakan dalam setiap jenjang dan tingkat pendidikan, dan menyusun silabus pembelajaran, dan menentukan batasan-batasan pencapaian minimum materi pembelajaran
3.      Menentukan pengalaman belajar
4.      Menentukan strategi atau metode pembelajaran pada masing-masing bidang
5.      Menentukan kriteria evaluasi/penilaian hasil belajar.
6.      Penulisan dan penyusunan kurikulum baru.
7.      Implementasi Kurikulum. Kurikulum yang telah direncanankan kemudian dilaksanakan sesuai keputusan yang telah ditetapkan. (Sukmadinata: )

PENUTUP
Simpulan
Pondok Pesantren Darussalam adalah pondok pesantren  tipe kombinasi  yang menyatukan sistem pendidikan pesantren modern dan tradisional/salafiyah.
Pesantren Darussalam  melakukan pengembangan kurikulum pendidikan dengan menggunakan model pengembangan kurikulum yang diterapkan oleh Beauchamp. Langkah-langkah pengembangan yang dilakukan, yaitu dengan membentuk tim yang terdiri dari beberapa orang yang berpengalaman dalam bidang kurikulum dan kepesantrenan serta pengasuh dan beberapa perwakilan ustadz-ustadzah; pengorganisasian dan prosedur pengembangan kurikulum dengan melakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang digunakan, menentukan kriteria-kriteria untuk menentukan kurikulum yang baru, merumuskan komponen-komponen kurikulum; mengimplementasikan kurikulum; dan mengevaluasi kurikulum. Pengembangan kurikulum pendidikan  juga dilakukan dengan  memisahkan antara kurikulum ma’hadiyah (kepesantrenan) dengan kurikulum sekolah/madrasah formal, dan kurikulum madrasah diniyah sehingga menghasilkan kurikulum yang seimbang.

Rekomendasi
1.  Pesantren Darussalam hendaknya terus melakukan pengembangan kurikulum pendidikannya dengan lebih mengembangkan unsur-unsur yang terkait dengan kurikulum, seperti pembuatan silabus dan RPP yang lebih rinci lagi sebagaimana silabus dan RPP yang diterapkan oleh para ahli kurikulum dan digunakan oleh sekolah/madrasah fomal. terlebih untuk pengembangan kurikulum ma’hadiyahnya.
2.    Pesantren Darussalam  perlu  melestarikan materi-materi pedidikan yang bersumber dari kitab-kitab  karangan ulama salaf dan ulama kontemporer yang belum digunakan, agar santri mendapatkan informasi ilmu-ilmu keagamaan yang lebih luas lagi dan dapat meningkatkan kemampuan santri dalam penguasaan kitab-kitab tersebut.
3.   Pesantren Darussalam perlu lebih meningkatkan  metode pembelajaran, seperti metode diskusi dengan mengadakan diskusi-diskusi ilmiah, seminar-seminar baik dalam lingkup pesantren maupun bersama pesantren-pesantren lain yang berkaitan dengan pendidikan pesantren dan meningkatkan metode menterjemah berbahasa Arab.

Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenuim III. Cet I. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2012.

Departemen Agama RI Direktorat Jendereal Kelembagaan Islam, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyyah

Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia. Cet 11. Jakarta: LP3ES. 2011

Suharto, Babun. Dari Pesantren Untuk Umat Reinventig Eksistensi Pesantren di Era Globalisasi. Cet I. Surabaya: Imtiyaz. 2011

Sukmadinata, Nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum

Suryobroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. 2002

Yusuf, Choirul Fuad dkk, Inovasi Pendidikan Agama dan Keagamaan. Cet I. Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI. 2006.


mas tam

About mas tam -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :