Manajemen
Kurikulum Pesantren Mahasiswa Dalam Membentuk Kecerdasan Spiritual dan
Kecerdasan Intelektual Mahasiswa (Studi Multi Situs di Pesantren Mahasiswa
Al-Hikam dan Pesantren Mahasiswa Firdaus Malang Jawa Timur)
Ahmad Tamami
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Kata
Kunci: Manajemen Kurikulum, Kecerdasan Spiritual
dan Kecerdasan Intelektual
Abstrak
Manajemen
kurikulum merupakan suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif,
komprehensif, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan tercapainya
tujuan kurikulum. Manajemen kurikulum dapat kita pahami sebagai
pertanggungjawaban (akuntabilitas) lembaga pendidikan terhadap masyarakat luas
dan pemerintah agar outcomes yang dihasilkan dapat bermanfaat. Dengan
adanya perencanaan kurikulum yang baik, maka akan dapat membantu terbentuknya
kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual santri mahasiswa.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis : (1) perencanaan kurikulum; (2) pegorganisasian kurikulum; (3) pelaksanaan kurikulum; dan (4) evaluasi kurikulum dalam membentuk kecerdasan
spiritual dan kecerdasan intelektual mahasiswa di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam
dan Pesantren Mahasiswa Firdaus Malang JawaTimur.
Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan kualitatif
interaktif yang berupa studi multi kasus, Pengumpulan data penelitian ini
menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah itu data yang
telah terkumpul dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan yang
terakhir adalah verifikasi atau menarik kesimpulan.
Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Perencanaan
kurikulum di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam dan Pesantren Mahasiswa
Firdaus dalam membentuk kecerdasan
spiritual dan kecerdasan intelktual mahasiswa yaitu berdasarkan motto,
visi, misi, dan tujuan pesantren. (2) Pengorganisasian kurikulum di Pesantren
Mahasiswa Al-Hikam dibagi menjadi tiga: Kedirosah, Pengasuhan,
dan Kesantrian. Pengorganisasian kurikulum di Pesantren Mahasiswa
Firdaus berdasarkan waktu pelaksanaan, pagi dan malam. (3) Pelaksanaan
kurikulum di Pesantren mahasiswa Al-Hikam dan Firdaus yaitu tingkat pesantren
(Pengasuh/Kepala Pesantren), dan tingkat kelas melalui pembagian tugas
mengajar. Pembentukan intelektual mahasiswa (kognitif) di Pesantren Al-Hikam
melalui kegiatan pembelajaran di kelas dan kegiatan di luar kelas (muhadlarah dan kuliah tamu). Pembentukan
mental-spiritual mahasiswa (afektif) melalui pemahaman terhadap kitab Al-Hikam,
Al-Mursidu al-Amin, Bidayatu Al-Hidayah, dan Ta’limu al-Muta’alim. Untuk
prakteknya berupa kegiatan keseharian, seperti shalat berjama’ah di masjid,
wirid setelah shalat fardhu, shalat tahajut, dan istighasah. Sedangkan pembinaan
ruhaniah atau mental spiritual di Pesantren Firdaus melalui pemahaman buku “Menggapai
Hidayah” dan Buku Rangkaian do’a dan dzikir. Untuk prakteknya melalui
pembiasaan shalat berjama’ah, dzikir, puasa sunnah Senin dan Kamis, hafalan
al-Qur’an dan kegiatan dzikir jama’i. Untuk pembinaan kecerdasan intelektual melalui
diskusi interaktif, seminar, dan bedah buku. (4) Evaluasi kurikulum yang
dilakukan oleh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam berdasarkan beberapa hal, yaitu:
berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian, dan berdasarkan usulan-usulan yang
didasarkan pada hasil ujian semester dan pengamatan yang dilakukan oleh wali
kelas dan asatidz. Sedangkan evaluasi kurikulum yang dilakukan oleh Pesantren
Mahasiswa Firdaus ada tiga, evaluasi dalam bidang kognitif, evaluasi dalam bidang
karakter dan kepribadian dan terakhir evaluasi dalam bidang kedisiplinan.
PENDAHULUAN
Pesantren
Mahasiswa merupakan bentuk lembaga pendidikan yang tranformatif dan alternatif
sebagai lembaga pendidikan penyempurna bagi proses pendidikan mahasiswa,
khususnya dalam aspek yang tidak atau kurang disentuh oleh lembaga pendidikan
formal yaitu aspek mental spiritual.
Selain itu, keberadaan pesantren mahasiswa merupakan bentuk keprihatinan dengan
makin banyaknya mahasiswa yang kurang maksimal mengelola waktunya dengan
kegiatan yang tidak bermanfaat. Sehingga rentan terjerumus terhadap pergaulan
bebas yang dapat merusak masa depannya. Oleh karena itu Pesantren Mahasiswa
berupaya menyediakan lingkungan kondusif bagi mahasiswa.
Pemikiran
tentang perlunya manajemen kurikulum di pesantren mahasiswa dipandang sebagai
suatu kebutuhan agar pesantren mahasiswa dapat secara maksimal memberikan
perannya kepada santri mahasiswa dalam membina mental spiritual dan
intelektualnya.
Pesantren
Mahasiswa al Hikam dan Firdaus mencoba membekali para mahasiswa melalui
kurikulumnya dengan ilmu agama dan kerohanian/mental spiritual serta kegiatan
yang dapat membangun kecerdasan intelektual, sehingga diharapkan mahasiswa
menjadi santri yang memiliki nilai tambah yaitu insan yang mampu menyeimbangkan
antara fikir dan dzikir sehingga pada penghujungnya menjadi insan yang berakhlak
mulia, berbuat adil dan bijaksana, toleran, serasi, dan terhindar dari sifat
ekstrim dalam mengabdikan dirinya kepada agama, masyarakat, nusa, dan bangsa.
Agar misi, visi, dan tujuan Pesantren Mahasiswa
terwujud, maka pegelolaan kurikulumnya benar-benar harus efektif. Karena
kurikulum merupakan alat yang penting dalam keberhasilan suatu pendidikan. Degan
demikian, perlu adanya penelitian mendalam di kedua pesantren tersebut di atas
(Al-Hikam dan Firdaus) karena untuk mengetahui kurikulum yang bagaimana dan
materi/kegiatan apa saja yang harus dituangkan ke dalam kurikulum dalam rangka
mebentuk kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual mahasiswa di dalam
lingkungan pesantren. Selain itu, penelitian ini akan
sangat bermanfaat untuk dijadikan acuan
dalam upaya melihat bagaimana eksistensi Pesantren Mahasiswa dalam membentuk
kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual mahasiswa.
METODE
PENELITIAN
Desain
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan kualitatif
interaktif yang berupa studi multi kasus, Pengumpulan data penelitian ini
menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah itu data yang
telah terkumpul dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan yang
terakhir adalah verifikasi atau menarik kesimpulan. Jenis
penelitian ini studi kasus, dikarenakan dalam penelitian ini memaparkan serta
membahas secara mendalam tentang manajemen kurikulum pesantren dalam membentuk kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual
mahasiswa di Pesantren Al-Hikam dan
Pesantren Firdaus Malang JawaTimur, mulai dari perencanaan kurikulum, pengorganisasian, pelaksanaan kurikulum, dan evaluasi kurikulum
Informan
Untuk
menggali data pada penelitian ini, peneliti akan menggali informasi kepada
beberapa informan, seperti Kepala Pesantren Mahasiswa Al-Hikam (Ust. H. Hilman
Wajdi) dan Ketua Yayasan Pesantren Mahasiswa Firdaus (Drs. Abdul Halim Rofi’ie,
M.Ag) untuk memperoleh data gambaran umum pesantren yang meliputi filosofi
berdirinya pesantren, tujuan pesantren, dan visi misi pesantren. Yang kemudian
dijadikan dasar dalam penyusunan kurikulum pesantren. Kepala Bidang Kedirosahan
Pesanten Mahasiswa Al-Hikam (Ust. Muzammil Zaini, MA) dan ketua Majlis
Pengajaran Pesantren Mahasiswa Firdaus (Drs. Abdul
Halim Rofi’ie, M.Ag) untuk memperoleh data manajemen kurikulum meliputi
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum. Bagian kepengasuhan
Pesantren Mahasiswa Al-Hikam (Ust. H. Abdul Hadi) dan pengasuh putri Pesantren
Firdaus (Dra. Nur Ainy Almascatty) untuk
memperoleh data pelaksanaan kegiatan yang mengarah pada kecerdasan spiritual
mahasiswa baik yang bersifat teoritis maupun praktis.
Tabel 1. Daftar Informan
No
|
Instrumen
|
Konteks Penelitian
|
1
|
Kepala
Pesantren al Hikam dan Ketua Yayasan Pesantren Mahasiswa Firdaus
|
Untuk memperoleh data gambaran umum pesantren yang
meliputi filosofi berdirinya pesantren, tujuan pesantren, dan visi misi
pesantren. Yang kemudian dijadikan dasar dalam penyusunan kurikulum
pesantren.
|
2
|
Kepala
Bidang Kedirosahan Pesanten Mahasiswa Al-Hikam dan ketua Majlis
Pengajaran Pesantren Mahasiswa Firdaus
|
untuk
memperoleh data manajemen kurikulum meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi kurikulum.
|
3
|
Bagian
kepengasuhan Pesantren Mahasiswa Al-Hikam dan pengasuh putri Pesantren
Firdaus
|
untuk memperoleh data pelaksanaan kegiatan
yang mengarah pada kecerdasan spiritual mahasiswa baik yang bersifat teoritis
maupun praktis.
|
Teknik Pengumpulan Data
Peneliti
menggunakan teknik observasi non partisipan artinya peneliti tidak ikut dalam
proses kegiatan, yang dilakukan hanya mengamati dan mempelajari kegiatan dalam
rangka memahami, mencari jawaban dan mencari bukti terkait Manajemen Kurikulum
Pesantren dalam membentuk kecerdasan spiritual dan
kecerdasan intelektual mahasiswa di Pesantren Mahasiswa
Al-Hikam dan Pesantren Mahasiswa Firdaus Malang JawaTimur.
Wawancara
yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur artinya
wawancara dengan perencanaan, di mana peneliti menggunakan pedoman wawancara
yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.
Wawancara terstruktur ini digunakan untuk mewawancarai nara sumber seperti
pengasuh, kepala pesantren, kabag kepengasuhan, kabag kedirosahan, kabag
kesantrian, serta para ustadz.
Analisa Data
Penelitian ini menggunakan
teknik analisis data kualitatif deskriptif, yaitu analisa data yang berpedoman
pada metode berpikir induksi dan deduksi. Analisis data ini untuk menjawab pertanyaan
yang dirumuskan dalam penelitian, yaitu mengapa dan bagaimana. Data dikumpulkan dengan
berbagai teknik pengumpulan data (triangulasi), yaitu merupakan penggabungan
dari berbagai macam teknik pengumpulan data baik wawancara, observasi, maupun
dengan menggunakan angket. Semakin banyak data terkumpul, maka hasil penelitian
yang didapat semakin bagus. (Patilima: 2004) Data yang sudah terkumpul kemudian
data dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang
penting dan dicari tema serta polanya. Data yang telah direduksi akan
memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan
pengumpulan data selanjutnya dan mencari data berikutnya jika diperlukan.
Data-data yang tidak terpakai dibuang, sehingga peneliti lebih fokus pada data
yang telah tereduksi. (Patilima: 2004) Setelah data direduksi, maka langkah
selanjutnya adalah mendisplaykan data. Display data berupa tabel. Display data
dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan
antar kategori dan flowchart. Penyajian data dengan menggunakan teks yang
bersifat naratif. (Patilima: 2004) Langkah berikutnya dalam analisis data
adalah verifikasi yaitu memverifikasi data dan menarik kesimpulan. Kesimpulan
yang diambil harus didukung oleh data-data yang valid dan konsisten. Sehingga
kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan yang
diperoleh merupakan jawaban dari fokus penelitian.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Perencanaan kurikulum di Pesantren Mahasiswa
Al-Hikam dan Pesantren Mahasiswa Firdaus dalam membentuk kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelktual mahasiswa
yaitu berdasarkan motto, visi, misi, dan tujuan pesantren. (2)
Pengorganisasian kurikulum di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam dibagi menjadi tiga:
Kedirosah, Pengasuhan, dan Kesantrian. Pengorganisasian
kurikulum di Pesantren Mahasiswa Firdaus berdasarkan waktu pelaksanaan, pagi
dan malam. (3) Pelaksanaan kurikulum di Pesantren mahasiswa Al-Hikam dan
Firdaus yaitu tingkat pesantren (Pengasuh/Kepala Pesantren), dan tingkat kelas
melalui pembagian tugas mengajar. Pembentukan intelektual mahasiswa (kognitif)
di Pesantren Al-Hikam melalui kegiatan pembelajaran di kelas dan kegiatan di
luar kelas (muhadlarah dan kuliah
tamu). Pembentukan mental-spiritual mahasiswa (afektif) melalui pemahaman
terhadap kitab Al-Hikam, Al-Mursidu al-Amin, Bidayatu Al-Hidayah, dan Ta’limu
al-Muta’alim. Untuk prakteknya berupa kegiatan keseharian, seperti shalat
berjama’ah di masjid, wirid setelah shalat fardhu, shalat tahajut, dan
istighasah. Sedangkan pembinaan ruhaniah atau mental spiritual di Pesantren
Firdaus melalui pemahaman buku “Menggapai Hidayah” dan Buku Rangkaian do’a dan
dzikir. Untuk prakteknya melalui pembiasaan shalat berjama’ah, dzikir, puasa
sunnah Senin dan Kamis, hafalan al-Qur’an dan kegiatan dzikir jama’i. Untuk pembinaan
kecerdasan intelektual melalui diskusi interaktif, seminar, dan bedah buku. (4)
Evaluasi kurikulum yang dilakukan oleh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam berdasarkan
beberapa hal, yaitu: berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian, dan berdasarkan
usulan-usulan yang didasarkan pada hasil ujian semester dan pengamatan yang
dilakukan oleh wali kelas dan asatidz. Sedangkan evaluasi kurikulum yang
dilakukan oleh Pesantren Mahasiswa Firdaus ada tiga, evaluasi dalam bidang
kognitif, evaluasi dalam bidang karakter dan kepribadian dan terakhir evaluasi
dalam bidang kedisiplinan.
Tabel 2 : Hasil Temuan Penelitian di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam
dan Pesantren Mahasiswa Firdaus Malang
No
|
Fokus Penelitian
|
Pesma Al-Hikam
|
Pesma Firdaus
|
1
|
Perencanaan
kurikulum
|
berdasarkan motto, visi, misi, dan tujuan
pesantren.
|
berdasarkan motto, visi, misi, dan tujuan
pesantren.
|
2
|
Pengorganisasian kurikulum
|
Pengorganisasian kurikulum di Pesantren
Mahasiswa Al-Hikam dibagi menjadi tiga: Kedirosah, Pengasuhan,
dan Kesantrian.
|
Pengorganisasian kurikulum di Pesantren
Mahasiswa Firdaus berdasarkan waktu pelaksanaan, pagi dan malam.
|
3
|
Pelaksanaan kurikulum
|
Pembentukan intelektual mahasiswa (kognitif)
di Pesantren Al-Hikam melalui kegiatan pembelajaran di kelas dan kegiatan di
luar kelas (muhadlarah dan kuliah
tamu). Pembentukan mental-spiritual mahasiswa (afektif) melalui pemahaman
terhadap kitab Al-Hikam, Al-Mursidu al-Amin, Bidayatu Al-Hidayah, dan Ta’limu
al-Muta’alim. Untuk prakteknya berupa kegiatan keseharian, seperti shalat
berjama’ah di masjid, wirid setelah shalat fardhu, shalat tahajut, dan
istighasah.
|
pembinaan ruhaniah atau mental spiritual di
Pesantren Firdaus melalui pemahaman buku “Menggapai Hidayah” dan Buku
Rangkaian do’a dan dzikir. Untuk prakteknya melalui pembiasaan shalat
berjama’ah, dzikir, puasa sunnah Senin dan Kamis, hafalan al-Qur’an dan
kegiatan dzikir jama’i. Untuk pembinaan kecerdasan intelektual melalui diskusi
interaktif, seminar, dan bedah buku.
|
4
|
Evaluasi kurikulum
|
berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian, dan
berdasarkan usulan-usulan yang didasarkan pada hasil ujian semester dan
pengamatan yang dilakukan oleh wali kelas dan asatidz.
|
evaluasi
kurikulum yang dilakukan oleh Pesantren Mahasiswa Firdaus ada tiga, evaluasi
dalam bidang kognitif, evaluasi dalam bidang karakter dan kepribadian dan
terakhir evaluasi dalam bidang kedisiplinan.
|
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan
bahwa perencanaan kurikulum dalam membentuk kecerdasan spiritual dan kecerdasan
intelktual mahasiswa di pesantren mahasiswa Al-Hikam sejalan dengan teori yang
dikemukakan oleh George R. Terry, bahwa untuk
memperoleh perencanaan yang kondusif, perlu dipertimbangkan beberapa jenis
kegiatan, salah satunya yaitu menentukan tujuan (objektives).
Perencanaan kurikulum dalam membentuk kecerdasan
spiritual dan kecerdasan intelktual mahasiswa di Pesantren Mahasiswa Firdaus
berdasar kepada motto, visi, misi dan tujuan yang dimilikinya. Dengan demikian
apa yang dilakukan oleh Pesantren Mahasiswa Firdaus sejalan dengan teori yang
dikemukakan oleh George.R.Terry, bahwa untuk
memperoleh perencanaan yang kondusif, perlu dipertimbangkan beberapa jenis
kegiatan, salah satunya adalah menentukan tujuan (objektives) organisasi.
Pesantren
Mahasiswa Al-Hikam setelah membuat rencana materi dan kegiatan pembelajaran yang diarahkan
untuk membina mental spiritual (afektif) dan intelektual (kognitif).
Organisasi
kurikulum merupakan pola atau desain bahan kurikulum yang tujuannya untuk
memudahkan siswa dalam mempelajari bahan pelajaran dan memudahkan siswa dalam
melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara
aktif. (Rusman:2009).
Pengorganisasian
kurikulum di Pesantren Mahasiswa Firdaus dilakukan setelah adanya perencanaan
materi dan bentuk kegiatan yang di tuangkan ke dalam kurikulum. Bentuk
pengorganisasian kurikulum di Pesantren Mahasiswa Firdaus berupa pembagian
materi pelajaran pada masing-masing tingkatan (paket I, II, III) selanjutnya
membuat jadwal pelaksanaan pembelaran dan menentukan muallim pada setiap mata
pelajaran.
Pelaksanaan kurikulum di Pesantren Mahasiswa Firdaus
dalam membentuk kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual dibagi menjadi dua, yaitu: pelaksanaan kurikulum tingkat pesantren
dan tingkat kelas. Pelaksanaan kurikulum di pesantren mahasiswa al Hikam ada
dua tingkatan, pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah dan tingkat kelas. Tahapan
pelaksanaan kurikulum meliputi: pertama, Pengembangan Program (mencakup
program tahunan, semester atau caturwulan, bulanan, mingguan, dan harian); kedua,
Pelaksanaan Pembelajaran; dan tiga, evaluasi proses. (Hamalik:2007).
Kemudian
evaluasi kurikulum di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam ada tiga, bulanan,
semesteran, dan tahunan.
Evaluasi
kurikulum yang dilakukan Pesantren Mahasiswa Firdaus yaitu ada tiga, evaluasi
dalam bidang kognitif, evaluasi dalam bidang karakter dan kepribadian dan
evaluasi dalam bidang kedisiplinan.
PENUTUP
Simpulan
1.
Perencanaan kurikulum dalam membentuk
kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelktual mahasiswa di pesantren mahasiswa
Al-Hikam berdasarkan
pada motto, visi, misi, dan tujuan pesantren, dan begitu juga perencanaan
kurikulum di Pesantren Mahasiswa Firdaus mendasarkan pada motto, visi, misi,
dan tujuan yang dimilikinya.
2.
Pengorganisasian kurikulum di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam yaitu
membagi menjadi tiga bidang. Bidang Dirosah menangani belajar mengajar
atau pembinaan intelektual mahasiswa (kognitif) melalui kegiatan pembelajaran
di kelas dan kegiatan di luar kelas (muhadhoroh
dan kuliah tamu). Muhadoroh, bentuk
kegiatannya berupa bedah buku, pelatihan jurnalistik, dan presentasi antar
jurusan (mahasiswa yang kuliah di UM, UB, UMM dll). , Bidang Pengasuhan
menangani pembentukan mental-spiritual mahasiswa (afektif) melalui pemahaman
terhadap kitab Al-Hikam, Al-Mursidu al-Amin, Bidayatu Al-Hidayah, dan Ta’limu
al-Muta’alim. Untuk prakteknya berupa kegiatan keseharian, seperti shalat
berjama’ah dimasjid, wirid setelah shalat fardhu, shalat tahajut, dan
istighasah. dan Bidang Kesantrian mendampingi proses aplikasi dan
aktualisasi diri serta memandu para Santri mahasiswa dalam pengembangan
karakter dan kepribadiannya. Pengorganisasian kurikulum Pesantren Mahasiswa
Firdaus langsung kepada waktu pelaksanaannya karena tidak adanya pembagian
kepala bidang seperti yang dilakukan oleh Pesantren Al-Hikam.
Pengorganisasiannya dibagi menjadi dua, yaitu kelas malam setelah shalat Magrib
dan kelas pagi setelah shalat Subuh. Pelaksanaan kegiatan yang diarahkan kepada
pembianaan ruhaniah atau mental spiritual dibagi menjadi dua, yaitu berupa
kegiatan pembelajaran yang sifatnya teori melalui kitab atau buku, seperti buku
Menggapai Hidayah dan Buku Rangkaian do’a dan dzikir. Untuk prakteknya secara
umum melalui kegiatan sehari-hari seperti pembiasaan shalat berjama’ah dzikir
setelah jama’ah dan dilanjutkan dengan berdo’a, puasa sunnah Senin dan Kamis,
hafalan al-Qur’an dan kegiatan dzikir jama’i. yang dilakukan seminggu sekali
pada Sabtu pagi setelah shalat subuh. Sedangkan pelaksanaan kurikulum yang
diarahkan pembinaan atau pembentukan kecerdasan intelektual mahasiswa,
Pesantren Mahasiswa Firdaus mengadakan kegiatan-kegiatan, seperti diskusi
interaktif, seminar, dan bedah buku yang
kesemuanya ada dalam materi Interdisipliner.
3.
Pelaksanaan kurikulum Pesantren mahasiswa Al-Hikam dalam membentuk
kecerdasan piritual dan kecerdasan intelektual mahasiswa yaitu pelaksanaan
tingkat pesantren (dalam hal ini kepala pesantren) bersama kabid kedirosahan
membuat program kurikulum, dan melakukan pembinaan kurikulum kepada seluruh
asatidz melalui rapat kerja dan pembinaan kurikulum kepada santri melalui
kegiatan MAISA (masa orientasi santri). Sedangkan untuk pelaksanaan tingkat
kelas yaitu terlaksananya kegiatan belajar mengajar melalui adanya pembagian
tugas dan jadwal mengajar kepada masing-masing asatidz. Begitu juga pelaksanaan
kurikulum yang dilakukan oleh Pesantren Mahasiswa Firdaus.
4.
Evaluasi kurikulum yang dilakukan oleh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam
berdasarkan beberapa hal, yaitu: berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian, dan
berdasarkan usulan-usulan yang didasarkan pada hasil ujian semester dan
pengamatan yang dilakukan oleh wali kelas dan asatidz. Sedangkan evaluasi
kurikulum yang dilakukan oleh Pesantren Mahasiswa Firdaus ada tiga, evaluasi
dalam bidang kognitif, evaluasi dalam bidang karakter dan kepribadian dan
terakhir evaluasi dalam bidang kedisiplinan.
Rekomendasi
1.
Bagi para pengambil kebijakan, sebagai salah satu acuan dalam
mengambil kebijakan tentang perencanaan kurikulum pesantren mahasiswa dalam
membentuk kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual mahasiswa.
2.
Bagi pelaksana pendidikan di pesanten, hendaknya mensosialisasikan
kurikulum yang dimiliki kepada semua pihak yang berkepentingan, sehingga bisa
menjadi landasan yang kuat dalam melaksanakan pendidikan dan mencapai tujuan
yang telah dicanangkan.
3.
Bagi Pesantren Mahasiswa Al-Hikam dan Pesantren Mahasiswa Firdaus,
segala bentuk kegiatan yang diterapkan di pesantren supaya di tuliskan secara
jelas tujuan dan indikator keberhasilannya. Dan ditambah dengan adanya standar
operasional prosedur (SOP) dalam setiap kegiatan, sehingga jelas pelaksanaannya
dan jelas penanggung jawabnya.
4.
Bagi peneliti selanjutnya, sebagai acuan untuk penelitian terutama
dalam aspek perencanaan kurikulum, spiritual dan intelektual.
Daftar Pustaka
Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Fatmawati, Erma. Manajemen Pengembangan Kurikulum Pesantren
Mahasiswa. Desertasi
Hafidhuddin, Didin dan Hendri Tanjung, Manajemen Syariah dalam Praktek. Jakarta:Gema insani. 2003
Hamalik, Oemar. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Cet. I.
Bandung: Rosda Karya. 2007.
Harahap, Sofyan Syafri. Akuntansi
Pengawasan dan Manajemen dalam Perspektif Islam. Jakarta: Fakultas Ekonomi
Universitas Trisakti. 1992.
Nasution, S. Kurikulum dan Pengajaran, Cet. II. Jakarta:
Bumi Aksara. 1995
Rusman. Manajemen Kurikulum. Jakarta: Rajawali Press. 2009.
Wahyudin, Din. Manajemen Kurikulum, Cet. I. Bandung: Rosda Karya.
2014.